Friday, 29 April 2016

MENGGALI PERKEMBANGAN MORAL DALAM MASA REMAJA BERDASARKAN KONTEKS PENGASUHAN DAN SEKOLAH

Selain teman sebaya, pengasuhan dan karakteristik orang tua dalam mendisiplinkan anak serta sekolah menjadi konteks yang penting dalam mengembangkan moral remaja.

Perkembangan moral  (moral development) 
Melibatkan pemikiran, perilaku dan perasaan dalam mempertimbangkan mengenai benar dan salah. Lalu kapankah remaja mulai berpikir akan hal yang benar dan salah?
Sekitar umur 10 tahun ke atas anak mulai menyadari aturan-aturan dan hukuman-hukuman yang diciptakan oleh orang. Kohlberg beranggapan bahwa relasi dengan teman sebaya sangat mempengaruhi perkembangan moral remaja. Namun disamping itu, keluarga atau pengasuhan juga merupakan faktor penting bagi perkembangan moral.

Pengasuhan
Piaget dan Kohlberg berpendapat bahwa orang tua tidak menyediakan masukan yang unik atau esensial bagi perkembangan moral anak-anak. Mereka berpendapat bahwa orang tua memiliki kewajiban memberikan kesempatan untuk pengambilan-peran dan mengalami konflik kognitif, namun mereka menyediakan peran primer dalam perkembangan moral bagi kawan-kawannya. Para peneliti mengungkapkan bagaimana orang tua maupun kawan sebaya berkontribusi terhadap perkembangan kematangan moral. (Walker, Hennig, Krettenauter, 2000; White & Matawie, 2004; Santrock, 2007).

Disiplin orang tua
Menurut teori psikoanalisis dari Freud, aspek pengasuhan anak yang dapat mendorong perkembangan moral anak adalah dengan cara menanamkan rasa takut terhadap hukuman dan kehilangan cinta orang tua. Para ahli perkembangan anak yang mempelajari teknik pengasuhan-anak dan perkembangan moral memiliki fokus terhadap teknik-teknik disipin yang dilakukan oleh orang tua. Secara garis besar, terdapat tiga teknik yang biasa dilakukan oleh orang tua untuk mendisiplinkan anak. Adapun teknik tersebut meliputi :
  • Menarik Cinta (love withdrawal)
Berkaitan erat dengan psikoanalisis terhadap takut akan hukuman atau kehilangan cinta orang tua. Teknik ini merupakan teknik disiplin dimana orang tua tidak memberikan atensi atau cintanya kepada remaja. Misalnya: seorang anak yang melanggar peraturan dari orang tuanya, dan sebagai hukumannya orang tua menolak untuk berbicara dengan anak tersebut.
  • Memperlihatkan kekuasaan (power assertion)
Teknik disiplin ini berkaitan dengan usaha orang tua dalam memperoleh kontrol terhadap remaja atau terhadap sumberdaya remaja. Contohnya : memukul, menampar, mengancam atau menghentikan hak remaja terhadap sesuatu (misalnya memotong uang jajan).
  • Membujuk (induction)
Teknik disiplin ini berkaitan dengan orang tua yang menggunakan penalaran dan penjelasan mengenao konsekuensi dari tindakan remaja terhadap orang lain. Contohnya : “Mengapa kamu tidak pernah menyapa temanmu? Padahal ia tidak bermaksud menyinggung perasaanmu” dan “Jangan memarahinya, dia hanya berusaha untuk memperingatkanmu”.
Para ahli teori dan peneliti perkembangan moral mengatakan semua jenis disiplin dapat menyadarkan remaja. Salah satu teknik yang dapat menyadarkan remaja dalam tingkat yang sangat tinggi ialah dengan menarik cinta dan memperlihatkan kekuasaan, sebab menarik cinta menimbulkan kecemasan pada remaja, sedangkan memperlihatkan kekuasaan dapat menimbulkan permusuhan antara orang tua dan remaja. Membujuk juga dapat menyadarkan remaja dan memperlihatkan hasil yang tinggi sedang tidak seperti saat menarik cinta dan memperlihatkan kekuasaan. Melalui membujuk remaja digiring untuk memperlihatkan konsekuensi dari tindakannya ke oran lain, bukan pada dirinya sendiri saja.
Sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini menyimpulkan bahwa secara umum, anak-anak yang bermoral cenderung  memiliki orang tua dengan karakteristik sebagai berikut (Eisenberg & Valiente, 2002; Santrock, 2007).
  • Hangat dan suportif dibandingkan menghukum
  • Menerapkan disiplin dengan cara membujuk
  • Memberikan peluang kepada anak untuk mempelajari perspektif dan perasaan orang lain.
  • Melibatkan anak-anak dalam pengambilan keputusan didalam keluarga dan memberikan peluang bagi anak-anak untuk melakukannya juga.
  • Memberikan informasi mengenai perilaku yang diharapkan dan disertai alasan mengapa.
  • Mendorong penghayatan moral yang bersifat internal dibandingkan eksternal.
Orang tua yang memperlihatkan konfigurasi perilaku seperti ini, cenderung mendorong berkembangnya perhatian dan kepedulian anak-anaknya terhadap orang lain, serta menciptakan relasi orang tua anak yang positif. Oleh sebab itu, seharusnya orang tua menggunakan cara membujuk untuk mendorong perkembangan moral remaja.

Sekolah
Sekolah merupakan sebuah konteks yang penting bagi perkembangan moral. Pendidikan moral banyak didebat dalam lingkungan pendidikan. Terdapat beberapa cara sekolah dalam meningkatkan moral anak-anak didiknya.
  • Kurikulum tersembunyi
Lebih dari 60 tahun yang lalu pendidik John Dewey mengenali bahwa meskipun seandarinya sekolah tidak memberikan program spesifik dalam meningkatkan moral, mereka tetap memberikan pendidikan moral melalui “kurikulum tersembunyi”. Kurikulum tersebunyi ini biasanya dibuat oleh para guru beserta seluruh pegawai administrasi sekolah dalam sebuah rapat.
  • Pendidikan moral
Atau (character educational) dimana para siswa diajarkan langsung mengenai moral dasar dan mencegah mereka untuk melakukan perilaku yang tidak bermoral dan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan kerugian terhadap diri sendiri dan orang lain.
Lawrence Walker (2002; Santrock 2007) menyatakan bahwa pendidikan karakter perlu melibatkan diskusi yang kritis mengenai nilai-nilai dibandingkan hanya sekadar menempelkan sebuah dafta mengenai kebijaksanaan moral di dinding kelas. Ia menekankan bahwa anak-anak remaja perlu berdiskusi dan berefleksi mengenai bagaimana menerapkan kebijaksanaan ke dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menekankan pentingnya menghadapkan anak muda pada teladan mpral yang dapat mendorong mereka untuk menconto dan membuat anak muda untuk berpartisipasi dalam layanan komunitas.
  • Penjelasan mengenai nilai
Penjelasan mengenai nilai membantu orang untuk memperjelas hal-hal yang penting bagi mereka, apa yang layak untuk dikerjakan dan tujuan hidup sepertia apa yang sebaiknya diraih. Dalam pendekatan ini, para siswa didorong untuk mendefinisikan nilai-nilai mereka dan memahami nilai-nilai orang lain. (Williams dkk., 2003; Santrock, 2007.
  • Pendidikan moral kognitif
Adalah sebuah konsep yang menekankan keyakinan bahwa siswa sebaiknya belajar menghargai nilai-nilai seperti demokrasi dan keadilan seiring dengan perkembangan moral mereka. Teori Kohlberg telah menajdi dasar bagi sejumlah program pendidikan moral kognitif. (Santrock, 2007)
  • Service learning
Adalah suatu bentuk pendidikan yang bertujuan untuk mendorong tanggung jawab sosial dan memberikan pelayanan kepada komunitas. Dalam service learning, remaja terlibat dalam aktivitas-aktivitas seperti tutoring, menolong orang lanjut usia, bekerja dirumah sakit, membantu dipusat penitipan anak, atau sebagai tenaga kebersihan di taman bermain. Salah satu tujua penting yang ingin dicapai oleh service learning bagi remaja adalah mengurangi kecenderungan untuk terpusat pada diri sendiri dan menumbuhkan motivasi yang lebih kuat untuk menolong orang lain (Benson, dkk., 2006 ; Hart, 2005; Metz & Youniss, 2005; Pritchard & Whitehead, 2004; Waterman, 1997; Santrock, 2007).

Ψ
Referensi :
Santrok, John W. 2007. Remaja, Edisi Kesebelas. Jakarta:Erlangga.

No comments:

Post a Comment

She's Coming Out Early!

Qalisha Syakira Ilham  She's Baby Qa Sebelumnya, janjian sama ayahnya mau barengan ulang tahun di Desember 28. Tiba-tiba tadi mala...