Showing posts with label Psychology. Show all posts
Showing posts with label Psychology. Show all posts

Monday, 23 October 2017

Mengapa Anak Tidak Menghabiskan Bekal Sekolahnya?

Photo Source: https://images.detik.com/community/media/visual/2016/07/20/ad58b8e7-3212-4817-a7c9-99fe4956f691.jpg?w=851

Sebenarnya ini pengalaman beberapa hari yang lalu dan saya baru bisa menulis ini hari ini sembari menunggu antrian Bank.

Masih dengan cerita sepupuku R. Pada tulisan sebelumnya saya menulis tentang R yang tidak ingin pulang sekolah. Nah, kali ini saya mau berbagi cerita tentang R yang selalu menyisakan bekal makan sekolahnya. 

R sekolah di salah satu TK di Lombok Barat. Sekolahnya mewajibkan anak didiknya untuk selalu membawa bekal dari rumah. Namun, lebih dari seminggu sekolah R tidak pernah menghabiskan bekalnya.

Akhirnya saya coba untuk mencaritahu penyebabnya, mengapa ia tidak pernah menyentuh makanannya ketika di sekolah. Namun ketika berada dirumah, dia semangat untuk menghabiskan makanannya. Langkah-langkahnya saya jabarkan berikut ini:

1. Bertanya kepada ibunya mengenai kebiasaan makannya dia.

Berdasarkan keterangan dari ibunya, ternyata R ketika makan, masih disuapi. Ini adalah point paling penting dan menjadi akar permasalahannya. Kesimpulan yang saya ambil adalah, jika R masih disuapi oleh orang tua atau significat other nya maka ketika di sekolah ia tidak disuapi oleh siapapun, itu yang membuat dia tidak pernah menyentuh bekalnya.

2. Melaporkan atau mendiskusikan hal tersebut kepada wali kelas.

Karena waktu itu saya tidak sempat bertemu dengan wali kelasnya sendiri, seorang guru lain mencatat nama R dan kelasnya untuk dikomunikasikan dengan wali kelasnya mengenai permasalahan yang saya ceritakan.

3. Ajak Anak Untuk Berbicara.

Menyelesaikan permasalahan anak tentu idealnya kita membuka percakapan dengan si anak. Bagaimana perasaannya, apa yang dialaminya, dan lain-lain. Hak tersebut saya lakukan pada R. Saya memulai percakapan dengan menanyakan apa lauknya hari ini. Obrolan kemudian mengalir dan ada beberapa point yang saya tangkap dari obrolan kami, seperti:

*Dia tidak menghabiskan bekalnya karena tidak bisa menyuapi dirinya sendiri.
*Dia takut ibunya akan marah karena mengetahuinya tidak menghabiskan bekal.
*Dia takut kakak dan asisten ibunya akan melaporkannya karena tidak menghabiskan bekal.
*Dia meminta saya untuk tidak melaporkannya.

Karena saya sudah menemukan akar permasalahan, saya mulai memberikan yaaaa semacam tindakan kasih sayang ke R, seperti:

1. Mengajarinya Untuk Makan Sendiri

Awalnya saya langsung minta dia untuk makan sendiri dan dia bilang tidak mau. Jadinya, saya suapi dia satu kali, saya siapkan nasinya dan meminta dia makan sendiri. Kemudian saya berikan dia contoh cara mengambil nasi dan lauk, yang kemudian dia menginformasikan saya bahwa gurunya juga sudah mengajarinya. Hingga nasinya habis, dia terus nyuapi dirinya sendiri.

Misi satu: bisa makan sendiri, berhasil!

2. Follow Up ke Wali Kelas

Next day ketika saya jemput lagi, saya bertanya ke wali kelasnya apakah dia memakan bekalnya atau tidak. Alhamdulillah wali kelasnya dengan penuh senyuman menjelaskan bahwa dia sudah memakan bekalnya walaupun sedikit.

Misi dua: makan sendiri dikelas, berhasil!

3. Mengajarkan Berbagi atau Makan Bersama

Kalau orang dewasa, atau mungkin saya pribadi, terasa nikmat apabila makan dengan berbagi atau makan bersama teman-teman yang dekat dengan kita. Jadi, saya memintanya untuk makan bersama teman-temannya.

Dia pernah bercerita bahwa temannya membagikan makanan untuk dia dan saya memintanya untuk memberi makanannya yang lebih atau menukarnya dengan temannya apabila temannya memberikannya lagi.

Misi tiga: makan bareng temen + berbagi dengan teman, berhasil!

4. Menu Makan

Sebenarnya ini hal yang paling penting, dan saya tidak terlibat dalam point ini. Saya hanya memperhatikannya. Beberapa waktu yang lalu saya memperhatikan menu makan yang diberikan oleh asisten ibunya berkisar antara nasi telur, mie, nasi abon dan makanan dengan kandungan karbohidrat lainnya.

Secara teknis mungkin R menganggap hal tersebut kurang praktis. Kemudian beberapa hari kemudian menu-menu tersebut diganti dengan kue-kue basah maupun kering. Jadi, R bisa makan makanan dengan praktis.

Berdasarkan point ini saya  belajar satu hal bahwa penting bagi kita agar memberikan variasi makanan untuk bekal anak sekolah. Misalnya mengkreasikan makanan dengan bahan seadanya agar tampilannya menarik.

5. Pujian

Pujian juga penting sebagai hadiah untuk anak, biasanya sambil mengelus kepalanya saya memujinya karena berhasil menghabiskan makanannya.

"Wah anak sholehah sudah berhasil ngabisin makanan"
"Duh pintar sekali adeknya kak Lia"
"Sudah solehah, hebat lagi bisa ngabisin makanannya"

Dan masih banyak pujian-pujian lainnya.
Kadang saya memberikannya reward seperti hal yang dia sukai, misalnya pergi ke toko ayahnya atas prestasinya menghabiskan makanan.

Pujian itu perlu untuk anak, sebagai bentuk bahwa dia dihargai atas apa yang sudah dilakukannya dan disayangi.


Wednesday, 4 October 2017

MEMAHAMI ANAK YANG MASIH INGIN DI SEKOLAH



“Membiarkan anak bermain pasir, lebih baik dibandingkan melihat dia bersama gadget seharian”


Terkadang kita banyak menemukan anak yang tidak ingin sekolah atau ingin segera pulang sekolah. Namun ini adalah cerita tentang adik sepupu saya R, dia sangat senang sekolah. Bahkan dia selalu ingin lama-lama di sekolah. Hal tersebut terjadi karena sepulang sekolah dia mengaji bersama dengan ustadzahnya.

Lalu apa sih yang membuat seorang anak ingin berlama-lama di sekolah?
Ada beberapa hal yang berhasil saya observasi, seperti berikut ini:

1. Teman Bermain

Disekolah, adik sepupu saya memiliki banyak sekali teman, hal ini berbanding terbalik dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya. R tinggal di lingkungan perumahan yang tidak ada anak seusia dia.

Dia selalu semangat menceritakan teman-temannya, bagaimana mereka berbagi makanan, bermain bersama dan janjian main bersama esok harinya. Kadang ketika R pulang duluan temannya akan mengingatkan “Besok main lagi ya” (Betapa indahnya masa anak-anak)

2. Wahana Permainan

Berbeda dengan sekolahnya yang lama, sekolahnya yang sekarang menyediakan banyak sekali wahana permainan, baik yang tradisional, modern maupuan yang edukatif. Bermain diluar kelas atau pun didalam kelas.

Ketika baru-baru sekolah, dia akan marah jika saya tidak membiarkan dia bermain terlebih dahulu. Saya memperhatikannya, betapa bahagianya dia mencoba semua permainan itu bersama teman-temannya. Selalu ada kebahagiaan melihat dia tertawa seperti itu.

3. Kedua Orang Tua Bekerja

Pagi hari sarapan dan diantar sekolah oleh ibunya. Kemudian siang hari ketika pulang sekolah dia biasanya bermain dengan kakak perempuannya dan asisten ibunya. Pernah beberapa kali asisten ibunya membawa anaknya yang lebih kecil daripada  R dan mereka bermain bersama.

Sore dan malam hari biasanya  R bersama orang tuanya, dan ketika weekend mereka selalu mengisinya dengan kegiatan bersama keluarga, entah jalan-jalan, berenang, dan lain sebagainya.

Kecuali jika istirahat siang dan ibunya pulang, biasanya  R mau langsung pulang atau ketika akan ke kantor milik bapaknya.

 R anak yang pintar, dia selalu bisa memahami orang tuanya yang bekerja.


            Poin ketiga adalah poin tambahan, bagi orang tua setelah pulang bekerja bisa memilih beberapa kegiatan antara orang tua dan anak di waktu senggang sehingga tetap terjaga kelekatan antara anak dan orang tua.

Setiap anak punya alasan yang berbeda mengapa ia senang sekali berada di sekolah. Tugas orang tua adalah memahami anaknya dan tidak membanding-bandingkannya dengan anak yang lain. Karena semua anak adalah spesial.

Masa kanak-kanak merupakan masa yang sebaiknya dihabiskan dengan bermain, iya bermain sambil belajar, dan berharap R mengisi masa kanak-kanaknya dengan bermain dan memiliki pengalaman diluar rumah, dia juga sangat senang bermain dan disatu sisi dia khawatir tidak ada yang menjemputnya. Oleh karena itu saya selalu membiarkan dia bermain hingga dia bosan untuk bermain, terkadang saya juga memberikan dia waktu bermain hal ini saya lakukan agar dia bisa belajar disiplin waktu.

Ada bebera hal yang saya lakukan ketika menjemputnya bermain, hal ini saya lakukan agar dia juga merasa bahwa dia diperhatikan.

1.       Menjemputnya Tepat Waktu

Biasanya saya menjemputnya jam 11.30 ketika dia selesai mengaji. Tapi beberapa waktu yang lalu dia marah pada saya dan mengira saya menjemputnya terlambat. Dia mengutarakan keinginannya pada saya yakni ingin seperti ibu-ibu temannya yang lain yang sudah menunggunya didepan kelas.

Saya melakukan seperti keinginannya dan dia selalu terlihat bahagia.

2.       Mengulang Kembali Jadwalnya

Ketika saya sudah terlihat didepan kelasnya saya mengingatkan dia kembali tentang jadwalnya yakni mengaji sepulang sekolah. Karena dia memang tidak suka jika langsung diajak pulang.

3.       Memberi Kesempatan Untuk Bermain

Seperti yang telah saya jelaskan diawal bahwa seusia  R memang sedang senang bermain. Terlebih jika melihat dia yang selalu bahagia bermain dengan teman-teman seusianya.

Memberinnya kesampatan untuk bermain juga sebagai hadiah karena dia telah berhasil sekolah dengan baik tanpa menangis atau ingin pulang.

4.       Menemaninya Bermain

Tidak selalu saya temani dia bermain karena dia lebih suka bermain dengan teman-temannya. Terkadang juga dia menolak untuk saya ajak bermain.

5.       Melihat Reaksinya

Menilai reaksi anak juga sangat penting. Jika dia senang dengan apa yang saya lakukan padanya, di lain hari akan saya ulangi. Seperti menjemputnya tepat waktu dan memberinya kesempatan untuk bermain.

6.      Bertanya Kegiatannya Di Sekolah

Komunikasi juga sangat penting dibangun. Biasanya ketika berada di atas motor, dia menceritakan kepada saya bagaimana dia berbagi makanan dengan temannya, lagu-lagu yang diajarkan oleh guru-gurunya, do’a-do’a, hadits dan juga surah Al-Qur’an yang diajarkan kepadanya.

                Itu adalah sedikit pengalaman saya bersama adik saya R. Tentu masih banyak PR-PR yang belum saya pecahkan mengenai pengasuhan anak khususnya adik sepupu saya R . Saya juga masih belajar dan apa yang sedang saya pelajari akan saya tulis, kelak jika menghadapi hal yang sama saya tahu cara menyelesaikannya.



Thursday, 20 July 2017

MEMAHAMI ANAK YANG TIDAK INGIN PULANG SEKOLAH


Memahami Anak yang Tidak Ingin Pulang Sekolah

Saya bukan seorang ibu-ibu tapi saya punya adik sepupu yang baru masuk TK, dan saya mau sharing bagaimana membujuknya agar mau pulang sekolah dengan saya.

Sebut saja Ulfi, ketika saya jemput disekolahnya dia bilang ke saya "Upi mau pulang sama Papa". Cara saya membujuknya adalah dengan mendengarkan dia terlebih dahulu.

1. Mencari Tahu Alasan Mengapa Ia Tidak Mau Pulang

      Saya tanyakan dulu pada Ulfi mengapa ia tidak mau pulang? Dia bilang ke saya bahwa ia ingin pulang besama Papanya. Penjelasan lainnya yang saya dapatkan adalah yakni ia terlalu cepat di jemput. Ini berarti bahwa ia sebenarnya punya rencana atau keinginan lain setelah pulang sekolah.

2. Memberikan Penjelasan

      Saya memberikan penjelasan bahwa kemarin sudah dijemput oleh papa dan hari ini papa sedang sibuk bekerja, oleh karena itu sayalah yang menjemputnya.

3. Mengetahui Keinginannya.

    Poin penting yang saya tangkap bahwa gestur tubuhnya yang mengarah pada wahana permainan menujukkan bahwa ia sebenarnya ingin bermain dan mengatakan bahwa mengapa ia cepat sekali di jemput.

4. Berikan Kesempatan Bermain

     Setelah mengetahui alasan dan keinginan ia sebenarnya, dan juga mempertimbangkan hari ini dia sudah bersekolah dengan baik (tanpa menangis dan minta pulang ataupun mencari orang tuanya) waktunya memberikan dia sedikit hadiah atau rewards yakni memberikan dia kesempatan untuk bermain.

Saya mengajaknya untuk bernegosiasi mengenai waktu bermain. Saya tawarkan untuk bermain 10 menit, kemudian dia minta 100 menit, karena tidak sabar menunggu kemudian saya memberinya 2 pilihan yang dia sukai dan tidak dia sukai. Pilihan Pertama, bermain 10 menit kemudian pulang sekolah ke Toko atau pilihan kedua bermain 20 menit tapi langsung pulang ke rumah. Kami pun deal dengan jari kelingking pada pilihan pertama.

5 Menit sebelum waktu bermain selesai saya ingatkan dia, karena dia setuju dan mampu melakukan negosiasi maka saya berikan bonus waktu bermain 5 menit.

Kemudian ketika waktu sudah selesai, saya ingatkan bahwa masih ada hari esok untuk sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. Selain itu saya juga menanyakan pengalamannya disekolah, mendengarkan lebih banyak mengenai hal yang ia senangi dari sekolah, teman-teman dan gurunya, juga cita-citanya di masa depan. Ini adalah stimulus-stimulus agar besok dia bersemangat untuk kembali ke sekolah.

Nah sekian cerita saya mengenai cara mengatasi anak yang tidak mau dijemput sekolah.
PS: Membangun komunikasi dua arah dengan anak adalah hal yang tepat.

Tuesday, 21 March 2017

Selamat Hari Down Syndrome Sedunia

Sumber Foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:World_Down_Syndrome_Day_Logo.png

SELAMAT HARI DOWN SYNDROME SEDUNIA :) 

AKU PUNYA MASA DEPAN, KAMU JUGA :) 

LALU APALAH ARTI BERBEDA :) 

Monday, 20 March 2017

JAJANAN TRADISIONAL WAJIK DAN INTEGRITY VS DESPAIR DALAM KONTEKS PSIKOLOGI LANSIA




Wajik merupakan jajanan tradisional yang dibuat dari gula merah, santan, ketan dan beberapa bahan pelengkap lainnya. Namun apa jadinya jika wajik berkolaborasi dengan salah satu dari 8 tahap perkembangan psikososial Erikson dalam Ilmu Psikologi?

Salah satu dari 8 tahap perkembangan psikososial yang disampaikan oleh Erikson yakni Integrity vs Despair. Tahap ini sangat erat kaitannya degnan kepuasan hidup yang dirasakan oleh seseorang, mereka akan menoleh kebelakang dan mengevaluasi apa saja yang sudah dilakukan dalam hidupnya, positifkah atau negatifkah, serta apa yang bisa ia wariskan kepada generasi dibawahnya.

Ada banyak aktivitas sosial yang dapat dilakukan untuk membantu lansia merasakan kebermaknaan atau kepuasan hidupnya, salah satunya adalah dengan mewariskan keahliannya pada generasi dibawahnya, dalam hal ini dikhususkan pada cucu.

Ditemui langsung dikediaman Hj. Fahriyah di Desa Bagik Polak Barat Sabtu (19/03/2017), ia bersama cucunya Tia (23) membuat jajanan tradisional wajik dibantu oleh kedua anak dan keponakannya.

“Jadi memang ada banyak hal yang dilakukan untuk membantu lansia mencapai kepuasan hidupnya. Saya sendiri sebenarnya tidak bisa menilai apakah seseorang merasa puas dengan hidupnya atau tidak, apakah orang itu sudah bermanfaat untuk lingkungannya atau tidak. Itu kan dari individu sendiri yang menilai. Namun kegiatan yang kami lakukan ini adalah bentuk kegiatan lintas generasi untuk mengisi waktu liburan dengan aktivitas sosial yang bermanfaat” Terangnya sembari mengaduk adonan wajik.

Kepada Tim Kim Labuapi ia menjelaskan bahwa tidak banyak orang yang menganggap aktivitas sosial lintas generasi adalah hal yang penting, khususnya antara cucu dengan kakek atau nenek. Melalui kegiatan ini, ia berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengisi waktu luang bersama dua generasi di atasnya, sehingga para kakek atau nenek dapat mewarisi keahliannya atau mungkin melalukan aktivitas sosial lainnya agar mereka tidak merasa terabaikan oleh generasi dibawahnya.



“Aktivitas sosial lintas generasi banyak jenisnya misalnya misalnya berkebun, bertani, membuat songket, kerajinan dari tanah liat, dan masih banyak lagi. Kalau saya sih biasanya menyesuaikan dengan keahlian kakek atau nenek saya, misalnya kayak ini bikin wajik, karena nenek saya emang pinter masak. Daripada hari libur sibuk sama gadget atau kelayapan seharian, mending ngisi waktu dengan orang tua atau kakek-nenek ” Tutupnya mengakhiri wawancara. (Ly) 

Friday, 3 March 2017

BERAT BADAN SUDAH 40 KG, MENGAPA MASIH INGIN KURUS JUGA? (menyimak diagnosa anorexia dan bulimia nervosa pada remaja perempuan)

Tinggi, kurus, cantik dan memiliki kulit mulus adalah serangkaian standar kecantikan perempuan yang sedang berkembang dalam perspektif masyarakat modern masa kini – khususnya di Indonesia.
Tidak hanya bagi orang dewasa dan supermodel, memiliki tubuh yang kurus juga merupakan hal yang sangat penting bagi remaja perempuan agar terlihat cantik dan menawan bagi lawan jenisnya. Tidak heran jika banyak remaja perempuan mati-matian diet agar mendapatkan tubuh yang kurus, dan tidak sedikit pula remaja yang akhirnya dilarikan kerumah sakit dan bahkan lebih parahnya dapat menimbulkan kematian akibat didiagnosa anorexia nervosa dan bulimia nervosa.
Apa sih anorexia nervosa dan bulimia nervosa tersebut?

Anorexia-nervosa

Anorexia nervosa ialah suatu gangguan makan (eating disorder) yang melibatkan upaya yang sangat keras untuk mendapatkan tubuh yang kurus dengan cara melaparkan diri. Anorexia lebih sering dialami oleh kaum perempuan dalam masa remaja dan dewasa awal dibandingan kaum laki-laki. Para penderita anorexia nervosa ini memiliki perspektif yang menyimpang mengenai citra tubuh yang ideal. Mereka merasa akan terlihat lebih baik jika mereka memiliki tubuh yang kurus kering.
Para penderita anorexia nervosa tidak serta merta menolak makanan dalam hidup mereka. Mereka juga memiliki minat yang besar terhadap makanan, namun bukan untuk dimakan sendiri olehnya melainkan dengan minat yang berbeda seperti memasak untuk orang lain dan menonton orang lain makan dengan bersemangat.

Ketika upaya melaparka diri berlanjut dan kandungan lemak tubuh menurun ke suatu batas minimum, menstruasi biasanya berhenti dan perilaku sering menjadi hiperaktif (Polivy dan Thomsen, 1987; Dalam Santrok, 2002).

Lalu apa saja faktor yang melatarbelakangi seseorang untuk menderita anorexia nervosa?
Faktor sosial dan psikologis menjadi faktor yang berperan penting dalam hal ini. Faktor sosial yang paling penting ialah tren memiliki tubuh yang kurus, melihat tokoh idola (public figure) yang sering di ekspose oleh media masa. Sehingga penderita anorexia memiliki keinginan untuk melakukan imitasi. Faktor psikologis meliputi motivasi untuk menarik perhatian orang lain, aktif secara seksual dengan pacar saat pubertas dan hubungan dengan orang tua. Sebab penderita anorexia nervosa biasanya berasal dari keluarga-keluarga berpendidikan tinggi, berpenghasilan menengah ke atas dan memberikan tuntutan yang tinggi bagi mereka untuk berprestasi. Bila penderita anorexia tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut, maka mereka tidak mampu pula untuk mengendalikan kehidupan mereka.

Nah, selain anorexia nervosa tersebut terdapat pula eating disorder lainnya yakni bulimia nervosa. Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang melibatkan makan dan minum secara berlebih-lebihan lalu memuntahkannya dengan konstan. Terkadang penderita bulimia  ini mengganti pola makan yang berlebih dengan perilaku makan seperti biasanya, terkadang pula mereka tidak makan sama sekali.

Bulimia

Sama halnya dengan anorexia nervosa, bulimia nervosa lebih banyak di derita oleh kaum perempuan daripada kaum laki-laki. Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menderita bulimia  hampir sama dengan faktor-faktor yang menyebabkan anorexia. 

Perilaku remaja yang menderita bulimia dan anorexia tersebut juga tidak lepas dari teori perkembangan kognitif dari Piaget. Dimana tahap terakhir dari keempat tahap perkembangan kognitif Piaget ini membahas mengenai tahap operasional formal (formal operation stage) yang berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun. Dalam tahap ini, remaja biasanya bernalar secara lebih abstrak, idealis dan logis. Ketika remaja berpikir secara abstrak, maka mereka akan mengembangkan gambaran mengenai keadaan yang lebih ideal. Misalnya dalam menarik perhatian lawan jenis, mereka akan membandingkan diri mereka dengan standar yang ideal dan sedang tren saat ini (seperti penderita anorexia dan bulimia). Tidak heran jika banyak kasus yang terjadi pada masa remaja.
Ψ
Referensi :
Santrok, John W. 2007. Remaja, Edisi Kesebelas. Jakarta:Erlangga.
Santrok, John W. 2002. Life-Span Development, Edisi Kelima. Jakarta:Erlangga.
sumber gambar :
http://vernonaharris.com/wp-content/uploads/2012/11/Bulimia_by_LemonTequila1-600x438.jpg
http://www.seotogrow.in/wp-content/uploads/Anorexia-nervosa-sports-nutritionist-krupali-shah-760x300.jpg

Tuesday, 21 February 2017

Nunggu Antrean Bersama Kakek


Jika dilihat dari periode perkembangan, saat ini saya sedang berada pada masa dewasa awal, sedangkan kakek & nenek saya berada pada masa dewasa akhir. Disebut juga lansia berdasarkan undang-undang di Indonesia yg membatasi usia lansia yakni 60 tahun ke atas.

Dewasa akhir, berarti tahap integrity vs despair jika dilihat dari 8 Stage nya Erikson. Stage terakhir ini sngat berkaitan sekali dg kepuasan hidup yg dirasakan oleh seseorang, menoleh kebelakang & mengevaluasi apa saja yg sudah dilakukan dlm hidupnya, positifkah atau negatifkah.

Lalu apa peran generasi dibawahnya?

Nah, kita bisa menemani dewasa akhir atau lansia untuk mencapai kebermaknaan hidupnya dengan melakukan berbagaimacam aktivitas sosial & membantunya untuk memberikan keahlian yg dimilikinya pada generasi dibawahnya. Kalau dirumah nenek, biasanya saya masak bareng, kalau dirumah kakek biasanya sy minta diceritakan pengalaman hidupnya atau tanya" masalah mesin, tapi biasanya sih saya curhat masalah cinta ke kakek, hehehewww. Dengan harapan timbulnya kebermaknaan hidup kakek nenek saya, agar mereka tidak kesepian juga sih.

Kenapa tidak melakukan aktivitas sosial lainnya? Misalnya berkebun, bertani, buat songket, perbaiki mesin mobil atau motor yg rusak, buat kerajinan tangan, dll?
Well, ini sebenarnya masih menjadi cita-cita saya terinspirasi dari pengalaman di Telminas Psikologi tahun lalu, mengadakan aktivitas lintas generasi (kakek nenek - cucu) mungkin dalam lingkup desa dulu, alhamdulillah dosen saya baru orang pertama & masih satu"nya yg mensupport niat tersebut.

Saya juga pengen lah punya aktivitas sosial yg banyak dengan kakek nenek saya.

Well, bagi yg kakek neneknya masih sehat, bersyukurlah 😉
Mari menemani kakek nenek kita agar mereka merasa bahagia dengan perhatian dari cucunya.

NB: cucu kakek & nenek sy bukan cuma saya saja, yg lain banyak yg sudah menikah & punya anak.

Friday, 29 April 2016

KENAKALAN REMAJA

“KENAKALAN REMAJA”

Masa remaja sering juga disebut dengan masa transisi, yakni jembatan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Banyak hal yang menandai terjadinya masa remaja seperti perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional.

Proses biologis (biological process) yakni melibatkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi didalam tubuh individu. Adapun perubahan bilogis tersebut meliputi : gen-gen yang diwarisi orang tua, perkembangan otak, tinggi dan berat tubuh, perubahan dalam keterampilan motorik, perubahan hormonal dimasa pubertas.

Proses kognitif yakni (cognitive process) melibatkan perubahan pemikiran dan intelligensi individu. Seperti mengingat sebuah puisi, memecahkan soal-soal pelajaran seperti matematika dan lain sebagainya, membayangkan sesuatu seperti menjadi seorang bintang film.

Psoses sosio-emosional (social emosional). Yang melibatkan perubahan-perubahan dalam hal emosi, kepribadian, relasi dengan orang lain dan konteks sosial. Seperti menanggapi perkataan orang tua, bersikap agresi terhadap kawan-kawan sebaya, kegembiraan ketika lulus sekolah, dan orientasi peran gender.

Berhenti disitu mengenai pengertian remaja. Lalu apa masalah yang sering dihadapi oleh remaja? Masalah-masalah tersebut meliputi kenakalan remaja, kehamilan remaja, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, bunuh diri dan gangguan-gangguan makan (eating disorder yang meliputi anorexia dan bulimia nervosa pernah dibahas dalam artikel sebelumnya, link : http://blog.ub.ac.id/juliatia/2014/10/13/berat-badan-sudah-40-kg-mengapa-masih-ingin-kurus-juga-menyimak-diagnosa-anorexia-dan-bulimia-nervosa-pada-remaja-perempuan/ . Dalam artikel kali ini, penulis akan lebih banyak membahas mengenai kenakalan remaja, determinan-determinan serta pencegahannya.

Kenakalan remaja
Kenakalan remaja (juvenile deliquency) mengacu pada perilaku luas yang bersikap negatif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain mulai dari perilaku yang tidak bisa diterima secara sosial (seperti melawan atau memukul guru, teman-teman), melakukan pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah selama lebih dari 24 jam) hingga pada tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri, membunuh dan lain sebagainya).  kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja yang merupakan perwujudan dari ketidakterselesaikannya proses-proses perkembangan maupun koonflik yang terjadi pada masa kanak-kanak maupun masa remaja saat itu.
katakan-tidak-pada-kenakalan-remaja
sumber foto : http://kamelia11.files.wordpress.com/2012/11/katakan-tidak-pada-kenakalan-remaja.jpg

Kenakalan remaja (juvenile deliquency) ialah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan/kenakalan anak-anak, muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anakdan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. (Kartini Kartono, 2011).

Untuk tujuan-tujuan hukum, dibuat suatu perbedaan antara pelanggaran-pelanggaran indeks (index offenses) dan pelanggaran-pelanggaran status (status offenses). Index offenses adalah tindakan kriminal, baik yang dilakukan oleh remaja maupun orang dewasa. Tindakan-tindakan tersebut meliputi perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan dan pembunuhan. Status offenses, ialah tindakan-tindakan seperti melarikan diri dari rumah, nolos dari sekolah, minum-minuman keras yang melanggar ketentuan-ketentuan usia, pelacuran, dan ketidakmampaun diri adalah tindakan-tindakan yang tidak terlalu serius. Tindakan-tindakan tersebut dilakukan oleh anak mudia dibawah usia tertentu, sehingga pelanggaran-pelanggaran itu disebut sebagai pelanggaran-pelanggaran remaja. (Santrock, 2002).

Faktor yang melatarbelakangi
Terdapat beberapa prediktor yang melatarbelakangi kenakalan remaja seperti :
1. Identitas (identitas negatif)
Kenakalan terjadi karena remaja gagal dalam mengatasi identitas peran. Dalam tahap Erikson kelima, remaja berada dalam tahap identitas versus kebingungan identitas (identity vs identitiy confusion). Dimasa ini, remaja dihadapkan pada tantangan siapakah mereka itu, apa keunikannya, dan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Oleh sebab itu, remaja yang gagal dalam mengatasi identitas perannya cenderung akan berperilaku menyimpang yang menjurus pada kenakalan remaja.
2. Pengendalian diri (derajat yang rendah)
Beberapa anak dan remaja yang gagal mencapai pengendalian diri yang baik yang umumnya bisa dicapai oleh rekan-rekan mereka dalam masa pertumbuhan yang sama.
3. Usia (kenakalan telah muncul pada usia dini)
Awalnya perilaku antisosial ditandai dengan pelanggaran-pelanggaran ringan, dan menjadi pelanggaran-pelanggaran serius di kemudian hari pada masa remaja. Akan tetapi, tidak semua anak yang bertindak berlebihan berorientasi menjadi anak atau remaja nakal.
4. Jenis kelamin (dominan dilakukan oleh laki-laki)
Dalam kasus ini, remaja laki-laki lebih banyak terlibat dalam kasus antisosial dan tindakan-tindakan kejahatan, sedangkan remaja perempuan lebih cenderung melarikan diri dari rumah.
5. Harapan-harapan bagi pendidikan (harapan-harapan yang rendah, komitmen yang rendah)
Remaja yang menjadi nakal cenderung memiliki nilai rapor yang rendah, prestasi yang rendah serta harapan-harapan pendidikan yang rendah pula. Seringkali kemampuan verbal mereka juga menjadi lemah.
6. Pengaruh teman sebaya (berpengaruh berat, seperti tidak mampu menolak ajakan teman)
Remaja seringkali tidak bisa menolak ajakan teman-teman sebayanya. Bergaul dengan teman-teman sebaya yang nakal dapat menambah resiko remaja menjadi nakal pula.
7. Status sosio ekonomi yang rendah
Pelanggaran-pelanggaran hukum yang ringan maupun berat lebih banyak dilakukan oleh anak laki-laki dengan status ekonomi rendah.
8. Peran orang tua (kurangnya keletakan dan pemantauan, dukungan yang rendah, disiplin yang tidak efektif dan kualitas lingkungan (misalnya dalam lingkungan perkotaan karena tingginya kejahatan dan mobilitas)
Masyarakat seringkali mengembangbiakkan kejahatan. Tinggal di lingkungan dengan tingkat kejahatan yang tinggi, kondisi kemiskinan dan kehidupan yang padat, menambah kemungkinan bahwa seorang remaja akan menjadi nakal. Biasanya masyarakat seperti ini memiliki sekolah-sekolah yang sangat tidak memadai.

Upaya Pencegahan
Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh masyarakat, orang tau, guru maupun pemerintah setempat dalam mengurangi kenakalan remaja. Upaya-upaya tersebut meliputi : pengadaan ekstrakulikuler di sekolah-sekolah, rekreasi, pelatihan kejuruan, terapi keluarga, modifikasi perilaku, kegiatan-kegiatan agama dan pembacaan kitab suci, maupun psikoterapi individu dan kelompok, dan lain sebagainya.
Karena perilaku kenakalan remaja menimbulkan kerugian yang besar
Dalam pandangannya mengenai pencegahan kenakalan, Joy Dryfoos (1990) juga menggarisbawahi apa yang belum berhasil dalam pencegahan kenakalan. Upaya-upaya yang kurang efektif tersebut meliputi simulasi kasus pencegahan konseling kelompok, intervensi farmakologi (kecuali bagi pelaku kekerasan yang ekstrim), pengalaman kerja, pendidikan kejujuran, sistem peradilan bagi anak-anak nakal dan upaya-upaya langsung yang menakutkan. Ia menambahkan, praktik-praktik sekolah terbaru yang tidak efektif mengurangi kenakalan meliputi pemberian skorsing, penahanan, pemecatan penjagaan keamanan, dan hukum badan.

Daftar Pustaka :
Santrok, John W. 2007. Remaja, Edisi Kesebelas. Jakarta:Erlangga.
Santrok, John W. 2002. Life-Span Development, Edisi Kelima. Jakarta:Erlangga.
Kartono, Kartini. 2011. Patologi Sosial 2, Kenakalan Remaja. Jakarta:Rajawali Pers.
Sumber foto :
http://kamelia11.files.wordpress.com/2012/11/katakan-tidak-pada-kenakalan-remaja.jpg

SEBENARNYA SIH PINTAR, TAPI KOK PERILAKUNYA NEGATIF? (Remaja Gifted)

Terkadang ketika sedang menempuh pendidikan, kita sering menemukan teman-teman sekelas kita yang malas, sering mengganggu teman yang lain, tidak mendengarkan penjelasan guru atau dosen, sering dihukum, sering tidur dikelas, sering membolos, terlambat masuk sekolah dan lain sebagainya. Tapi ketika ujian dia memperoleh nilai tertinggi. Mengapa demikian?
Mungkin beberapa diantara kita mengira guru atau dosen kita-lah yang pilih kasih atau salah memberi nilai, dia mendapat bocoran soal-lah, mencontek dan prasangka-prasangka lainnya.
Bagaimana jika seseorang yang telah disebutkan perilakunya tersebut benar-benar mendapat nilai tertinggi dengan murni? Mungkinkah?
Sangat mungkin sekali!

Gifted!
 
Adalah istilah yang diberikan kepada seseorang yang berbakat, superior, ataupun genius secara intelektual. Gifted  berbeda dengan talent. Jika talent menyoroti bakat khusus misalnya akademik, sosial dan kinestetik. Maka, gifted lebih condong pada bakat umum atau intelektual secara umum. Remaja gifted biasanya memiliki IQ diatas 130, atau bakat dominan dalam suatu bidang tertentu.
Ketika masih sekolah, kita sering menjumpai teman kita yang sering membolos sekolah, mengganggu teman yang lain alias menjadi biang keladi kelas, namun ia sebenarnya adalah anak yang pintar. Hal tersebut terjadi karena ia berusaha untuk menarik perhatian orang lain dan ketika remaja berbakat yang tidak mendapat tantangan dalam hidupnya, maka ia akan menarik diri sehingga motivasi berprestasinya rendah. Terkadang mereka juga memilih untuk mengurung diri, menjadi pastif dan apatis di sekolah.
Dalam kehidupan sehari-hari anak gifted kerap kali bertingkah-laku negatif, baik di sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. Tidak heran jika masyarakat umum sering memberikan label “terlalu dewasa untuk seumurannya” terhadap anak gifted dan kerapkali membeda-bedakan perlakuan antara anak gifted dan anak normal pada umumnya.

Karakteristik

Adapun karakteristik anak berbakat yang dikemukakan oleh Ellen Winer adalah sebagai berikut :
  • Lebih maju atau cepat matang
Anak gifted biasanya lebih cepat menguasai suatu bidang indikasi kemampuan alami yang tinggi. Mereka lebih cepat matang karena dilahirkan dengan kemampuan yang tinggi. Dalam bidang yang mereka minati, mereka belajar dengan mudah dibandingkan dengan teman-teman seusia mereka.
  • Berkembang menurut tempo dan caranya sendiri
Anak gifted tidak membutuhkan bantuan yang banyak dari orang dewasa. Mereka memiliki iramanya sendiri. Mereka seringkali menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cara yang unik dan melakukan penemuan-penemuan sendiri.
  • Gairah untuk menguasai dan menjadi seorang ahli
Anak gifted memiliki minat dan obsesi yang tinggi serta intensitas terhadap suatu bidang yang mereka rasa kuasai. Oleh sebab itu, tidak heran jika mereka kerap kali berambisi untuk menguasai bidang dimana mereka memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang tersebut.

Ciri-Ciri Fisik

Dalam ciri fisiknya, anak gifted memiliki ciri fisik yang berbeda dengan teman seumurannya. Mereka biasanya memiliki tubuh tinggi dan lebih kuat. Saat kecil, mereka mulai berjalan, berbicara dan mengenali objek-objek pada umur lebih dahulu daripada anak-anak yang seumuran dengannya. Secara umum mereka memiliki kondisi fisik yang lebih sehat dibandingkan dengan anak-anak seumurannya.
Anak gifted lebih senang bermain dengan teman-teman yang lebih tua darinya, dan kerap kali menjadi pemimpin diantara teman-temannya. Mereka biasanya dilahirkan dari kalangan keluarga dengan ekonomi menengah ke atas, karena biasanya mereka akan mendapatkan segala kemudahan dari orang tuanya, dan cenderung dilahirkan di kota-kota besar.

Apakah gifted merupakan faktor keturunan atau lingkungan? 

Keduanya!
Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi mereka menjadi gifted adalah sebagai berikut :
v  Faktor keturunan
Mereka memiliki tanda-tanda berkemampuan tinggi yang ditampilkan dalam usia yang sangat muda jauh sebelum mereka memasuki sekolah-sekolah formal. Hal tersebut mengindikasikan pentingnya kemampuan bawaan.
v  Dukungan keluarga
Dukungan dari keluarga adalah salah satu faktor yang penting juga dalam kasus ini. Biasanya keluarga atau orang tua mereka terlalu bersemangat dalam memaksa, namun mereka seringkali kehilangan motifasi intrinsik mereka.
v  Latihan mandiri (deliberate practice)
Bagi remaja yang memiliki keahlian pada bidang tertentu, latihan mandiri kerap kali dilakukan pada tingkat kesulitan yang tepat bagi individu.
Ψ
Referensi :
Asrori, Mohammad, dan Ali Mohammad. 2012. Psikologi Remaja.Jakarta: Bumi Aksara.
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Tatanaba. “Anak Gifted”.       . (online). https://sites.google.com/site/tantataba/anak-gifted. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2014.

MENGGALI PERKEMBANGAN MORAL DALAM MASA REMAJA BERDASARKAN KONTEKS PENGASUHAN DAN SEKOLAH

Selain teman sebaya, pengasuhan dan karakteristik orang tua dalam mendisiplinkan anak serta sekolah menjadi konteks yang penting dalam mengembangkan moral remaja.

Perkembangan moral  (moral development) 
Melibatkan pemikiran, perilaku dan perasaan dalam mempertimbangkan mengenai benar dan salah. Lalu kapankah remaja mulai berpikir akan hal yang benar dan salah?
Sekitar umur 10 tahun ke atas anak mulai menyadari aturan-aturan dan hukuman-hukuman yang diciptakan oleh orang. Kohlberg beranggapan bahwa relasi dengan teman sebaya sangat mempengaruhi perkembangan moral remaja. Namun disamping itu, keluarga atau pengasuhan juga merupakan faktor penting bagi perkembangan moral.

Pengasuhan
Piaget dan Kohlberg berpendapat bahwa orang tua tidak menyediakan masukan yang unik atau esensial bagi perkembangan moral anak-anak. Mereka berpendapat bahwa orang tua memiliki kewajiban memberikan kesempatan untuk pengambilan-peran dan mengalami konflik kognitif, namun mereka menyediakan peran primer dalam perkembangan moral bagi kawan-kawannya. Para peneliti mengungkapkan bagaimana orang tua maupun kawan sebaya berkontribusi terhadap perkembangan kematangan moral. (Walker, Hennig, Krettenauter, 2000; White & Matawie, 2004; Santrock, 2007).

Disiplin orang tua
Menurut teori psikoanalisis dari Freud, aspek pengasuhan anak yang dapat mendorong perkembangan moral anak adalah dengan cara menanamkan rasa takut terhadap hukuman dan kehilangan cinta orang tua. Para ahli perkembangan anak yang mempelajari teknik pengasuhan-anak dan perkembangan moral memiliki fokus terhadap teknik-teknik disipin yang dilakukan oleh orang tua. Secara garis besar, terdapat tiga teknik yang biasa dilakukan oleh orang tua untuk mendisiplinkan anak. Adapun teknik tersebut meliputi :
  • Menarik Cinta (love withdrawal)
Berkaitan erat dengan psikoanalisis terhadap takut akan hukuman atau kehilangan cinta orang tua. Teknik ini merupakan teknik disiplin dimana orang tua tidak memberikan atensi atau cintanya kepada remaja. Misalnya: seorang anak yang melanggar peraturan dari orang tuanya, dan sebagai hukumannya orang tua menolak untuk berbicara dengan anak tersebut.
  • Memperlihatkan kekuasaan (power assertion)
Teknik disiplin ini berkaitan dengan usaha orang tua dalam memperoleh kontrol terhadap remaja atau terhadap sumberdaya remaja. Contohnya : memukul, menampar, mengancam atau menghentikan hak remaja terhadap sesuatu (misalnya memotong uang jajan).
  • Membujuk (induction)
Teknik disiplin ini berkaitan dengan orang tua yang menggunakan penalaran dan penjelasan mengenao konsekuensi dari tindakan remaja terhadap orang lain. Contohnya : “Mengapa kamu tidak pernah menyapa temanmu? Padahal ia tidak bermaksud menyinggung perasaanmu” dan “Jangan memarahinya, dia hanya berusaha untuk memperingatkanmu”.
Para ahli teori dan peneliti perkembangan moral mengatakan semua jenis disiplin dapat menyadarkan remaja. Salah satu teknik yang dapat menyadarkan remaja dalam tingkat yang sangat tinggi ialah dengan menarik cinta dan memperlihatkan kekuasaan, sebab menarik cinta menimbulkan kecemasan pada remaja, sedangkan memperlihatkan kekuasaan dapat menimbulkan permusuhan antara orang tua dan remaja. Membujuk juga dapat menyadarkan remaja dan memperlihatkan hasil yang tinggi sedang tidak seperti saat menarik cinta dan memperlihatkan kekuasaan. Melalui membujuk remaja digiring untuk memperlihatkan konsekuensi dari tindakannya ke oran lain, bukan pada dirinya sendiri saja.
Sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini menyimpulkan bahwa secara umum, anak-anak yang bermoral cenderung  memiliki orang tua dengan karakteristik sebagai berikut (Eisenberg & Valiente, 2002; Santrock, 2007).
  • Hangat dan suportif dibandingkan menghukum
  • Menerapkan disiplin dengan cara membujuk
  • Memberikan peluang kepada anak untuk mempelajari perspektif dan perasaan orang lain.
  • Melibatkan anak-anak dalam pengambilan keputusan didalam keluarga dan memberikan peluang bagi anak-anak untuk melakukannya juga.
  • Memberikan informasi mengenai perilaku yang diharapkan dan disertai alasan mengapa.
  • Mendorong penghayatan moral yang bersifat internal dibandingkan eksternal.
Orang tua yang memperlihatkan konfigurasi perilaku seperti ini, cenderung mendorong berkembangnya perhatian dan kepedulian anak-anaknya terhadap orang lain, serta menciptakan relasi orang tua anak yang positif. Oleh sebab itu, seharusnya orang tua menggunakan cara membujuk untuk mendorong perkembangan moral remaja.

Sekolah
Sekolah merupakan sebuah konteks yang penting bagi perkembangan moral. Pendidikan moral banyak didebat dalam lingkungan pendidikan. Terdapat beberapa cara sekolah dalam meningkatkan moral anak-anak didiknya.
  • Kurikulum tersembunyi
Lebih dari 60 tahun yang lalu pendidik John Dewey mengenali bahwa meskipun seandarinya sekolah tidak memberikan program spesifik dalam meningkatkan moral, mereka tetap memberikan pendidikan moral melalui “kurikulum tersembunyi”. Kurikulum tersebunyi ini biasanya dibuat oleh para guru beserta seluruh pegawai administrasi sekolah dalam sebuah rapat.
  • Pendidikan moral
Atau (character educational) dimana para siswa diajarkan langsung mengenai moral dasar dan mencegah mereka untuk melakukan perilaku yang tidak bermoral dan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan kerugian terhadap diri sendiri dan orang lain.
Lawrence Walker (2002; Santrock 2007) menyatakan bahwa pendidikan karakter perlu melibatkan diskusi yang kritis mengenai nilai-nilai dibandingkan hanya sekadar menempelkan sebuah dafta mengenai kebijaksanaan moral di dinding kelas. Ia menekankan bahwa anak-anak remaja perlu berdiskusi dan berefleksi mengenai bagaimana menerapkan kebijaksanaan ke dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menekankan pentingnya menghadapkan anak muda pada teladan mpral yang dapat mendorong mereka untuk menconto dan membuat anak muda untuk berpartisipasi dalam layanan komunitas.
  • Penjelasan mengenai nilai
Penjelasan mengenai nilai membantu orang untuk memperjelas hal-hal yang penting bagi mereka, apa yang layak untuk dikerjakan dan tujuan hidup sepertia apa yang sebaiknya diraih. Dalam pendekatan ini, para siswa didorong untuk mendefinisikan nilai-nilai mereka dan memahami nilai-nilai orang lain. (Williams dkk., 2003; Santrock, 2007.
  • Pendidikan moral kognitif
Adalah sebuah konsep yang menekankan keyakinan bahwa siswa sebaiknya belajar menghargai nilai-nilai seperti demokrasi dan keadilan seiring dengan perkembangan moral mereka. Teori Kohlberg telah menajdi dasar bagi sejumlah program pendidikan moral kognitif. (Santrock, 2007)
  • Service learning
Adalah suatu bentuk pendidikan yang bertujuan untuk mendorong tanggung jawab sosial dan memberikan pelayanan kepada komunitas. Dalam service learning, remaja terlibat dalam aktivitas-aktivitas seperti tutoring, menolong orang lanjut usia, bekerja dirumah sakit, membantu dipusat penitipan anak, atau sebagai tenaga kebersihan di taman bermain. Salah satu tujua penting yang ingin dicapai oleh service learning bagi remaja adalah mengurangi kecenderungan untuk terpusat pada diri sendiri dan menumbuhkan motivasi yang lebih kuat untuk menolong orang lain (Benson, dkk., 2006 ; Hart, 2005; Metz & Youniss, 2005; Pritchard & Whitehead, 2004; Waterman, 1997; Santrock, 2007).

Ψ
Referensi :
Santrok, John W. 2007. Remaja, Edisi Kesebelas. Jakarta:Erlangga.

Tuesday, 2 February 2016

Anak dan Media : Apakah Upin dan Ipin Adalah Tontonan yang Mendidik?

A. Data Umum Materi

Inisial Anak          : K.A
Usia                      : 4 Tahun
Film kesukaan      : Upin dan Ipin : Season 5 – Belajar Lagi, Bagian I
Waktu Tayang      : Pagi pukul 08.00 WIB dan siang pukul
Stasiun Televisi    : MNCTV
Deskripsi singkat :
Serial televisi Upin dan Ipin ini merupakan serial televisi yang sering ditonton oleh KA yang kini berusia 4 tahun. Setiap pagi dan siang hari KA selalu menonton Upin dan Ipin, setelah itu dilanjutkan denga menonton serial tv oada zaman dahulu. KA sampai meminta ibunya untuk membelikan DVD Upin dan Ipin serta Pada Zaman Dahulu.

B.     Penyampaian Konten

Adapun penyampaian konten serial televisi Upin dan Ipin ini ditayangkan dengan full kartun berdurasi sekitar 18 menit dengan 3 bagian didalamnya. Masing-masing bagian berdurasi 6 menit.
Upin dan Ipin ditayangkan menggunakan Bahasa Melayu atau Malaysia dengan pengisi suara yang berbeda pada setiap tokohnya. Penayangan di Indonesia melalui stasiun televisi MNCTV, dengan subtitle berbahasa Indonesia.

C.    Konten Media

Pada bagian pertama serial televisi ini,  menceritakan Upin dan Ipin yang sedang membuat kerajinan tangan yakni topi yang terbuat dari koran bekas. Saat mereka berlari, mereka menyaksikan iklan yang menayangkan seorang laki-laki yang mempersiapkan dirinya memasuki sekolah dan membeli pakaian sekolah di sebuah toko.

Upin dan ipin lalu mencari Kakaknya yakni Kak Ros untuk mempertanyakan apakah ia juga sudah menyiapkan perlengkapan sekolahnya. Setelah mendengar penjelasan Kak Ros, Upin dan Ipin pun berlari mempersiapkan perlengkapan sekolahnya.

Mereka menemukan sepatu mereka sudah kotor dan celananya bolong. Ia meminta dibelikan yang baru oleh Kok Ros, namun dengan senang hati nenek menawarkan untuk menjahitkan celananya. Ketika nenek tidak bisa memasukan benar kedalam jarum, Upin dan Ipin dengan antusias ingin menolongnnya meskpiun pada akhirnya mereka tidak bisa memasukkannya hingga dibantu oleh Kak Ros. Opa mengucapkan terimakasih seletah Kak Ros memberinya kembali benang dan jarum tersebut. Sementara itu, kak Ros mengajak mereka keluar rumah untuk menyemir sepatunya. Setelah Kak Ros meninggalkannya, mereka mulai bermain dengan semir sepatu tersebut.

Pada malam hari, Kak Ros membantu Upin dan Ipin mempersiapkan peralatan sekolah yang akan dibawa besok pagi. Saat itu, mereka hanya memiliki sebuah penghapus, lalu Kak Ros membaginya menjadi dua bagian dan diberikan kepada Upin dan Ipin.

Sebelum tidur, mereka berpamitan terlebih dahulu dan mencium tangan Opa dan Kak Ros, lalu berterimakasih dan memeluk Kak Ros karena telah dibantu mempersiapkan peralatan sekolah untuk hari esok. Mereka pun bergembira.

D.    Tujuan atau Materi yang Ingin Disampaikan

Dewasa ini, banyak sekali anak yang suka menonton sinetron-sinetron yang memang seharusnya tidak ditonton oleh anak-anak. Orang tua juga kerap kali mengajak anaknya untuk menonotn acara-acara sinetron yang menjadi kesukaan orang tuanya, mau tidak mau, anak pun menjadi suka dengan sinetron itu. Sehingga mulai menceritakan kisah-kisah yang ada dalam sinetron itu kepada teman-temannya.

Rupanya tidak semua anak gemar menonton sinetron yang seharusnya diperuntukkan untuk orang dewasa. Ada beberapa serial televisi yang gemar ditonton oleh anak-anak seperti Upin dan Ipin, Pada Zaman dahulu, Masha and The Bear, dan lain sebagainya.

Salah satunya adalah Upin dan Ipin. Upin dan Ipin sebagai salah satu serital televisi anak-anak yang mendidik, terlebih lagi pada usia anak pra sekolah dan TK.

Banyak Sekali materi atau Pelajaran yang dapat diambil dari cerita Upin dan Upin ini. Pelajaran-Pelajaran tersebut akan dijelaskan dalam poin berikut ini :

1. Membuat kerajinan tangan
Adegan pertama menampilkan Upin dan Ipin sedang membuat kerajinan tangan. Hal ini dapat dijadikan contoh untuk melatih kreativitas anak, dan mengajarkan anak bahwa tidak semua mainan harus dibeli, karena kalau kita mau, kita bisa membuatnya sendiri.

2. Mandiri
Upin dan Ipin mempersiapkan perlengkapan sekolahnya bersama-sama tanpa dibantu oleh Kak Ros ataupun Opa. Pun demikian ketika mereka menyemir sepatu mereka masing-masing. Orang tua dapat mengajarkan kepada anak untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa, misalnya mempersiapkan seragam sekolah, dan mencontohkan akan bagaimana cara menyemir sepatu dan meminta mereka memperagakannya sendiri.

3. Menggunakan pakaian yang masih layak pakai
Ketika Upin dan Upin meminta seragam dan sepatu yang baru. Kak Ros menjelaskan bahwasanya sepatu dan seragam tersebut masih bagus dan masih bisa dipakai. Lalu Opa menjahitkan celana tersebut untuk mereka dan Kak Ros mengajarkan kepada Upin dan Ipin untuk menyemis sepatunya.

4. Sikap tolong-menolong
Saat Opa hendak menjahitkan seragam untuk Upin dan Ipin, Opa tidak bisa memasukkan benang kedalam jarum. Upin dan Ipin sangat antusias ingin membantu. Dari penggalan cerita tersebut kita dapat mencontohkan anak bahwasanya menolong orang yang membtuhkan adalah perbuatan baik. Pun ketika menyemir sepatu, Upin dan Ipin menyemir sepatu tersebut bersama-sama.

5. Mengucapkan terimakasih setelah ditolong
Kita dapat mengajari anak untuk selalu mengucapkan terimakasih kepada orang lain yang telah menolong kita. Opa mengucapkan terimakasih kepada Kak Ros yang telah membantunya memasukkan benang kedalam jarum. Pun saat malam hari Upin dan Ipin juga memeluk Kak Ros dan mengucapkan terimakasih karena telah membantu mereka menyiapkan peralatan sekolah.

6. Semangat untuk bersekolah
Semangat untuk bersekolah terlihat jelas dalam serial ini. Orang tua dapat memberitahu anak bahwasanya bersekolah itu menyenangkan, bertemu dengan teman-teman baru dan membuat kita lebih pintar dari sebelumnya. Semangat bersekolah yang diperlihatkan oleh Upin dan Ipin terlihat dari awal serial ini dimulai, dimana upin dan ipin semangat untuk mempersiapkan segala peralatan sekolahnya dan malam hari ketika Kak Ros berkata akan membangunkan mereka pagi-pagi untuk berangkat sekolah.

7. Saling berbagi
Saat Kak Ros membantu mereka memasukkan alat tulis kedalam tas, Kak Ros menanyakan penghapus. Mereka hanya memiliki satu penghapus lalu Kak Ros membagi penghapus tersebut menjadi dua bagian dan memberikan kepada mereka berdua. Hal ini dapat diajarkan kepada anak untuk berbagi bersama saudara maupun temannya.

E.     Saran Penonton

Serial televisi Upin dan Ipin ini cocok ditonton oleh anak-anak. Dengan jenjang usia prasekolah, TK dan Sekolah dasar. Sebab dalam masa ini, anak-anak lebih menyukai permainan dan menonton serial kartun. Pada usia seperi ini, anak juga senang menirukan teman atau lingkungannya karena seperti teori yang dikemukakan oleh Albert Bandura bahwasanya anak belajar langsung melalui pengalaman dan pengamatan.
Ketika menonton acara ini, anak sebaiknya didampingi oleh orang tua atau orang dewasa lainnya, yang mana orang tua nanti akan menjelaskan kepada anak mengenai perilaku-perilaku dalam serial Upin dan Ipin ini yang bisa dijadikan contoh.

F.     Pengemasan Media

Pengemasan serial televisi Upin dan Ipin ini sangat menarik dan aman untuk ditonton oleh anak-anak. Serial ini bisa dipastikan serial televisi yang mendidik untuk ditonton oleh anak, dan disampaikan dengan cara yang jelas, serta tidak mengandung unsur kekerasan.

G.    Teori yang Relevan

Jika dilihat dari Tahap Perkembangan Piaget, serial televisi Upin dan Ipin ini cocok di tonton oleh anak yang berada pada tahap praoperasional. Tahap praoperasional ini berlangsung sekita usia 2 – 7 tahun, yang mana pada usia seperti ini anak sudah mampu menjelaskan dunia dengan kata-kata, gambar dan lukisan. Kata-kata dan gambar ini mencerminkan peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensoris dan tindakan fisik.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, adapun teori yang relevan yang berkaitan dengan serial ini adalah teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura dan Walter Mischel. Fokus awal penelitian ini adalah pengamatan-pembelajaran yang terjadi melalui pengamatan terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain. Dalam pembelajaran pengamatan, orang secara kognitif mewakili perilaku orang lain dan kemudian kadang menerima perilaku ini untuk mereka sendiri.

Hal ini dapat terjadi pada anak-anak, mereka kerap kali cepat menirukan perilaku dari orang-orang terdekat mereka. Oleh sebab itu, serial televisi Upin dan Ipin ini baik untuk ditonton oleh anak-anak. Melalui cerita-cerita yang disampaikan dalam serial ini, orang tua bisa mengajarkan kepada anak-anaknya perilaku-perilaku yang dapat dijadikan contoh.

Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak, Edisi Kesebelas. Jakarta : Erlangga.

Anak dan Media : Pelajaran Apa yang Bisa Diambil dari Serial TV Anak-anak “Pada Zaman Dahulu : Sang Kancil dan Gong Raja Sulaiman”?

A.    Data Umum Materi
Inisial Anak          : K.A
Usia                    : 4 Tahun
Film kesukaan      : Pada Zaman Dahulu : Sang Kancil Dan Gong Raja  Sulaiman
Waktu Tayang       : Pagi pukul 08.30 WIB
Stasiun Televisi    : MNCTV
Deskripsi Singkat   :
     KA, selain menonton Upin dan Ipin, ia juga senang sekali menonton Pada Zaman Dahulu. Serial ini merupakan serial anak-anak yang tayang pada pagi hari. Dimana serial ini menceritakan tenang petualangan seekor kancil yang lolos dari terkaman harimau dengan kepintarannya.

B.     Penyampaian Konten
      Penyampaian konten pada serial televisi untuk anak-anak yakni Pada Zaman Dahulu, Episode Kancil dan Gong Raja Sulaiman ini dengan menggunakan media kartun penuh.
Awal cerita dibuka dengan aktivitas sehari-hari kakek dan kedua cucunya, dengan beberapa kejadian yang bisa diambil hikmahnya. Dari kejadian-kejadian tersebut, kakek mulai bercerita tentang dongeng-dongeng pada zaman dahulu.

C.    Konten Media
      Cerita pada zaman dahulu ini dibuka dengan aktivitas keseharian seorang kakek dengan dua cucunya, yakni si abang dan si ara. Suatu hari saat mereka sedang menyapu halaman, ara menuju sebuah pohon rambutan, saat ia berbicara dengan boneka kesayangannya menghadap keatas, ia melihat banyak sekali buah rambutan yang siap di panen.
      Ia meminta abangnya untuk memanjat pohon tersebut, namun kakek melarang abang untuk memanjat dikarenakakan abang tidak ahli dalam memanjat pohon. Kakek lalu pergi mengambil galah untuk memetik rambutan tersebut.
      Saat kakek pergi, ara memaksa abangnya untuk memanjat pohon. Jadilah si abang memanjat pohon tersebut dan memakan buah rambutan yang ia temukan di atas. Saat ingin mengambil buah berikutnya, kaki dan tangannya terpeleset, ia hampir jatuh, bajunya tersangkut di sebuah pohon.
       Saat kakek hendak membawanya turun, Ara memaksanya untuk menceritakan sebuah kisah yang tadi diucapkannya. Kakek lalu mulai bercerita tentang seekor kancil dan gong raja sulaiman.
       Suatu hari hariau mengejar kancil, saat harimau hendak menerkam kacil ia terjebak masuk kedalam sebuah lumpur hidup. Saat kancil sedang berada disebuah kebun, sekelompok serangga mengejar kancil. Kancil lau bersembunyi di bambu dan terlena dengan suara yang dihasilkan oleh bambu tersebut dari tiupan angin.
Mendengar suara itu, si harimau pun terlena dengan keindahan suaranya. Si kancil berbohong pada harimau dengan mengatakan bahwa itu adalah suara seruling Raja Sulaiman.
       Untuk yang kesekian kalinya, harimau mendapati kanci. Kali ini harimau benar-benar akan memangsa kancil sampai akhirnya, kancil berbohong lagi dengan mengatakan ada perlombaan yang diadakan oleh Raja Sulaiman apabila ada yang mampu memukul gong.
      Kancil lalu menunjukkan gong tersebut yang sebenarnya adalah sarang tawon. Dengan bersemangat si harimau memukul tawon tersebut hingga terjatuh. Tawon-tawon tersebut kini mengejar harimau. Secara tidak langsung, kancil juga telah menyelamatkan buah-buah dihutan yang busuk karena dimakan oleh tawon-tawon tadi.

D.    Tujuan atau Materi yang Ingin Disampaikan
       Pada zaman dahulu : Kancil dan Gong Raja Sulaiman, adalah salah satu serial yang aman untuk ditonton oleh anak usia pra sekolah atau usia TK. Serial ini mengajarkan ganjaran dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan. Misalnya saja, kedengkian dan kesombongan harimau yang berakhir dengan musibah yang dialaminya yakni digigit tawon. Kecerdikan kancil yang melepaskan dirinya dari cengkraman harimau yang hendak memangsanya. Yang terakhir adalah, Haris yang memanjat pohon dan tersangkut karena telah melanggar perintah kakeknya untuk tidak memanjat pohon rambutan tersebut.

E.     Saran Penonton
       Serial ini sebaiknya ditonton oleh anak usia prasekolah dan TK. Selain karena pada masa ini anak sangat menyukai kartun, orang tua dapat dengan mudah mengajarkan anak untuk berbuat baik melalui medi ini.
Pengawasan orang tua dalam menonton setiap tayangan televisi yang diperuntukan untuk anak-anak menjadi faktor yang paling penting agar tidak serta merta anak menyerap semua yang ditontonnya. Orang tualah yang berperan untuk menyaring tayangan-tayangan untuk anak-anaknya.
       Orang tua dapat menjelaskan ganjaran-ganjaran dari perbuatan baik atau tidak baik yang terjadi pada serial ini.

F.     Pengemasan Media
       Pengemasan serial Pada Zaman Dahulu : Kancil dan Gong Raja Sulaiman ini sangat menarik dan aman untuk ditonton oleh anak-anak, kartun dengan banyak warna-warni menjadi salah satu kesukaan anak-anak.
Serial ini adalah salah satu serial anak-anak yang mendidik dan aman untuk ditonton oleh anal-anal, karena mengajarkan hikmah dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan. Acara ini dsampaikan dengan cara yang jelas dan tidak mengandung unsur kekerasan.

G.    Teori yang Relevan
       Jika dilihat dari Tahap Perkembangan Piaget, serial televisi Pada Zaman Dahulu : Kancil dan Gong Raja Sulaiman ini cocok di tonton oleh anak yang berada pada tahap praoperasional. Tahap praoperasional ini berlangsung sekita usia 2 – 7 tahun, yang mana pada usia seperti ini anak sudah mampu menjelaskan dunia dengan kata-kata, gambar dan lukisan. Kata-kata dan gambar ini mencerminkan peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensoris dan tindakan fisik.
       Seperti yang sudah dijelaskan pada analisa sebelumnya, adapun teori yang relevan yang berkaitan dengan serial ini adalah teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura dan Walter Mischel. Fokus awal penelitian ini adalah pengamatan-pembelajaran yang terjadi melalui pengamatan terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain. Dalam pembelajaran pengamatan, orang secara kognitif mewakili perilaku orang lain dan kemudian kadang menerima perilaku ini untuk mereka sendiri.
      Hal ini dapat terjadi pada anak-anak, mereka kerap kali cepat menirukan perilaku dari orang-orang terdekat mereka. Oleh sebab itu, serial televisi Pada Zaman Dahulu : Kancil dan Gong Raja Sulaiman ini baik untuk ditonton oleh anak-anak. Melalui cerita-cerita yang disampaikan dalam serial ini, orang tua bisa mengajarkan kepada anak-anaknya perilaku-perilaku yang dapat dijadikan contoh dan ganjaran-ganjaran yang akan didapatkan dari perilaku tersebut.

Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak, Edisi Kesebelas. Jakarta : Erlangga.

She's Coming Out Early!

Qalisha Syakira Ilham  She's Baby Qa Sebelumnya, janjian sama ayahnya mau barengan ulang tahun di Desember 28. Tiba-tiba tadi mala...