Tuesday, 23 May 2017

DISKUSI PISUKE DENGAN INAK-INAK

Foto diambil dari berbagai sumber

Beberapa bulan ini saya sedang mencari-cari tema penelitian berikutnya, setelah sukses dengan "Perbedaan Kepuasan Pernikahan Pada Istri Pelaku Merariq dan Belakoq di Suku Sasak Pulau Lombok". Hari ini saya berdiskusi dengan inak-inak (ibu-ibu) di sebuah berugak (gazebo). Adapun ibu-ibu yang turut hadir dalam diskusi ini adalah:

1. Inak A, dua anak perempuan berusia 20an tahun yang keduanya sudah menikah
2. Inak B, satu anak perempuan berusia 18 tahun yang juga sudah menikah
3. Inak C, dua anak perempuan berusia 18 tahun dan 20 tahun dan belum menikah
4. Inak D, dua anak perempuan berusia 13 tahun dan 6 tahun, belum menikah
5. Inak E, satu anak berusia 3 tahun

Tema diskusi kami hari ini mengenai pisuke yang kerap kali diminta dari pihak perempuan, pisuke hampir sama dengan uang panai dari adat Makasar. Pisuke juga dipengaruhi oleh beberapa pertimbangan lainnya, misalnya:

*Status Sosial (Bangsawan)
*Pendidikan
*Latar Belakang Keluarga
*Fisik
*Prestasi (syukurnya tidak ada tes IQ)
*Dan pertimbangan lainnya

Tidak tanggung-tanggung, semua biaya pernikahan harus ditanggung oleh pihak laki-laki. Mulai dari begawe dirumah laki-laki, mahar, pisuke, nyongkolan, resepsi, inggas dirumah perempuan.

Kemudian saya berada pada posisi dimana saya belum pernah membesarkan anak dan saya kontra terhadap praktik minta pisuke atau uang-capek-karena-sudah-membesarkan-anak-perempuan yang akan dinikahkan tersebut. Sekedar informasi saja bahwa dibalik julukan pulau seribu masjid, ketaatan penduduk terhadap ulama, keindahan pariwisata dan uniknya adat yang dimiliki oleh Pulau Lombok, penduduknya masih sangat memegang teguh adat istiadatnya dan tidak jarang pula dalam banyak hal adat-lah yang justru selalu menang.

Praktik pernikahan di pulau Lombok sebenarnya sangat unik, setidaknya terdapat 8 macam pernikahan yang pernah dilakukan di Lombok seperti yang ditulis oleh Muhammad Harfin Zuhdi dalam bukunya Praktik Merariq: Wajah Sosial Orang Sasak.

1.     Teperondong
2.     Kapanjing, kahambil, dan beboyongan
3.     Balegandang atau ngoros
4.     Belakoq
5.     Kapahica
6.     Katrimanan atau katrimen
7.     Nyerah hukum
8.     Pengampuan

Walaupun demikian, dalam praktiknya hingga saat ini terdapat tiga cara yang biasa dilakukan yakni belakoq (melamar), merariq (melarikan atau menculik) dan teperondong (dijodohkan). Cara-cara tersebut juga tetap meminta pisuke pada keluarga laki-laki. Justru biasanya cara belakoq sendiri pisukenya lebih banyak dibandingkan dengan cara lain, dikarenakan laki-laki yang menikah dengan cara melamar atau belakoq biasanya dinilai lebih matang dari segala sisi terutama ekonomi dibandingkan dengan cara merariq atau menculik. Beberapa desa justru lebih mengutamakan laki-laki menikah dengan cara menculik karena jika meminta atau belakoq dinilai seperti meminta anak ayam.

Oke kembali ke cerita saya mengenai diskusi pisuke dengan inak-inak. Masih jelas ditelinga saya ketika inak D bilang ke saya “Lebih baik saya nikahkan anak saya dengan orang kaya, daripada dengan orang yang taat (beragama). Nanti anak saya ga bisa kenyang”. Saya tentu kaget dengan statement yang disampaikan ibu tersebut, pikirku “oh ternyata agama kalah dengan kondisi ekonomi”.

Saya mencoba menceritakan beberapa pengalaman teman saya yang kakak perempuannya menikah tanpa dimintai pisuke oleh keluarganya, memang adat sudah mendarah daging tentu beberapa orang ibu ini tidak percaya, walaupun saya bilang “perempuan pintar pasti akan memudahkan sunnah” ya tetap saja saya akan dijawab dengan “Ustad X anaknya aja seharga sekian”.


Entah ini dimulai dari mana tapi saya sangat tidak setuju dengan pisuke yang kadang nilainya sangat tidak masuk akal seperti ini. Kalau dua – tiga juta mungkin wajar, tapi tidak wajar ketika yang lulus SMA ‘dijual’ dengan harga belasan juta dan yang sarjana puluhan juta 25 – 50 juta, bahkan ada yang 75 juta (sepaket dirumah perempuan :D), toh pernikahan yang menjalani juga dua orang tersebut. Jadi jangan heran jika tingkat perceraian dan poligami di Lombok sangat tinggi, hal tersebut terjadi karena laki-laki berada pada derajat superior dan ‘membeli’ perempuan manapun yang dia inginkan. (Ly) 

No comments:

Post a Comment

She's Coming Out Early!

Qalisha Syakira Ilham  She's Baby Qa Sebelumnya, janjian sama ayahnya mau barengan ulang tahun di Desember 28. Tiba-tiba tadi mala...