![]() |
| Foto diambil dari berbagai sumber |
Beberapa bulan ini saya sedang mencari-cari tema penelitian
berikutnya, setelah sukses dengan "Perbedaan Kepuasan Pernikahan Pada
Istri Pelaku Merariq dan Belakoq di Suku Sasak Pulau Lombok". Hari ini
saya berdiskusi dengan inak-inak (ibu-ibu) di sebuah berugak (gazebo). Adapun
ibu-ibu yang turut hadir dalam diskusi ini adalah:
1. Inak A, dua anak perempuan berusia 20an tahun yang keduanya
sudah menikah
2. Inak B, satu anak perempuan berusia 18 tahun yang juga sudah
menikah
3. Inak C, dua anak perempuan berusia 18 tahun dan 20 tahun dan
belum menikah
4. Inak D, dua anak perempuan berusia 13 tahun dan 6 tahun, belum
menikah
5. Inak E, satu anak berusia 3 tahun
Tema diskusi kami hari ini mengenai pisuke yang kerap kali diminta
dari pihak perempuan, pisuke hampir sama dengan uang panai dari adat Makasar.
Pisuke juga dipengaruhi oleh beberapa pertimbangan lainnya, misalnya:
*Status Sosial (Bangsawan)
*Pendidikan
*Latar Belakang Keluarga
*Fisik
*Prestasi (syukurnya tidak ada tes IQ)
*Dan pertimbangan lainnya
Tidak tanggung-tanggung, semua biaya pernikahan harus ditanggung
oleh pihak laki-laki. Mulai dari begawe dirumah laki-laki, mahar, pisuke,
nyongkolan, resepsi, inggas dirumah perempuan.
Kemudian saya berada pada posisi dimana saya belum pernah membesarkan
anak dan saya kontra terhadap praktik minta pisuke atau
uang-capek-karena-sudah-membesarkan-anak-perempuan yang akan dinikahkan
tersebut. Sekedar informasi saja bahwa dibalik julukan pulau seribu masjid,
ketaatan penduduk terhadap ulama, keindahan pariwisata dan uniknya adat yang
dimiliki oleh Pulau Lombok, penduduknya masih sangat memegang teguh adat
istiadatnya dan tidak jarang pula dalam banyak hal adat-lah yang justru selalu
menang.
Praktik pernikahan di pulau Lombok sebenarnya sangat unik, setidaknya
terdapat 8 macam pernikahan yang pernah dilakukan di Lombok seperti yang
ditulis oleh Muhammad Harfin Zuhdi dalam bukunya Praktik Merariq: Wajah Sosial Orang Sasak.
1. Teperondong
2. Kapanjing, kahambil, dan beboyongan
3. Balegandang atau ngoros
4. Belakoq
5. Kapahica
6. Katrimanan atau katrimen
7. Nyerah hukum
8. Pengampuan
Walaupun
demikian, dalam praktiknya hingga saat ini terdapat tiga cara yang biasa
dilakukan yakni belakoq (melamar), merariq (melarikan atau menculik) dan teperondong (dijodohkan). Cara-cara
tersebut juga tetap meminta pisuke pada keluarga laki-laki. Justru biasanya
cara belakoq sendiri pisukenya lebih banyak dibandingkan
dengan cara lain, dikarenakan laki-laki yang menikah dengan cara melamar atau belakoq biasanya dinilai lebih matang
dari segala sisi terutama ekonomi dibandingkan dengan cara merariq atau menculik. Beberapa desa justru lebih mengutamakan
laki-laki menikah dengan cara menculik karena
jika meminta atau belakoq dinilai
seperti meminta anak ayam.
Oke
kembali ke cerita saya mengenai diskusi pisuke dengan inak-inak. Masih jelas ditelinga saya ketika inak D bilang ke saya “Lebih baik saya nikahkan anak saya dengan
orang kaya, daripada dengan orang yang taat (beragama). Nanti anak saya ga bisa
kenyang”. Saya tentu kaget dengan statement yang disampaikan ibu tersebut,
pikirku “oh ternyata agama kalah dengan kondisi ekonomi”.
Saya
mencoba menceritakan beberapa pengalaman teman saya yang kakak perempuannya
menikah tanpa dimintai pisuke oleh keluarganya, memang adat sudah mendarah
daging tentu beberapa orang ibu ini tidak percaya, walaupun saya bilang
“perempuan pintar pasti akan memudahkan sunnah” ya tetap saja saya akan dijawab
dengan “Ustad X anaknya aja seharga sekian”.
Entah
ini dimulai dari mana tapi saya sangat tidak setuju dengan pisuke yang kadang
nilainya sangat tidak masuk akal seperti ini. Kalau dua – tiga juta mungkin
wajar, tapi tidak wajar ketika yang lulus SMA ‘dijual’ dengan harga belasan
juta dan yang sarjana puluhan juta 25 – 50 juta, bahkan ada yang 75 juta
(sepaket dirumah perempuan :D), toh pernikahan yang menjalani juga dua orang
tersebut. Jadi jangan heran jika tingkat perceraian dan poligami di Lombok
sangat tinggi, hal tersebut terjadi karena laki-laki berada pada derajat
superior dan ‘membeli’ perempuan manapun yang dia inginkan. (Ly)

No comments:
Post a Comment