Semalam sebelum tidur om saya yang bekerja di German mengirimi saya pesan via Whatsapp untuk menebak sebuah gambar yang dikiriminya.
Sekilas terlihat seperti sebuah box telpon umum yang biasa digunakan oleh masyarakat sebelum akhirnya telpon umum harus menerima kenyataan pahit dikalahkan oleh kecanggihan tekologi. Tebakan saya adalah "Alih Fungsi Telpon Umum Menjadi Perpustakaan Umum". Om saya membenarkan tebakan saya tersebut.
"Awalnya, hanya ada satu atau beberapa buku yang ada disana. Setelah dua minggu saya perhatikan jadi semakin banyak. Semua disana adalah buku-buku bekas, jadi kalau mau naruh boleh, mau bawa pulang boleh tapi nanti dikembalikan lagi"
Book Box, sebutan yang digunakan untuk perpustakaan umum mendadak itu terletak di sebelah terminal Bus dengan dikelilingi oleh sebuah bangku. Jadi, sembari menunggu bus datang, biasanya masyarakat akan membaca buku-buku yang terletak di Book Box.
"Biasanya mereka memanfaatkan waktu 15 - 30 menit untuk membaca buku" Terangnya.
Doel Saroji menjelaskan bahwa Book Box bekas telpon umum tersebut tidak difasilitasi oleh negara, melainkan inisiatif sendiri oleh warga dan menggunakan tenaga matahari sebagai listrinya.

Lebih jauh lagi dalam artikel yang ditulisnya sebut saja Doel Saroji menjelaskan bahwa karena budaya membaca yang diterapkan sejak kecil tersebut, biasanya berlanjut ketika sudah dewasa, tidak heran jika di universitas-universitas kita menemukan beberapa kelompok yang sedang membaca. Hal tersebut juga bisa dilihat di Indonesia, dimana beberapa turis yang datang berlibur menyelipkan buku untuk menemani mereka berlibur atau berjemur di pantai.
Doel Saroji juga menjelaskan bahwa hal serupa bisa kita terapkan di Indonesia. Ia percaya bahwa jika anak-anak kita di didik atau dikenali dengan berbagai macam buku-buku menurut umurnya sedini mungkin, anak-anak tentu akan lebih menyukai buku. Menurutnya, hal tersebut bisa dilakukan dengan cara membacakan buku cerita bergambar kepada anak, seperti yang ia lakukan kepada anak-anaknya.
Berdasarkan artikel yang ditulisnya, ia juga menyesalkan sikap orang tua baru yang seringkali memberikan anak-anak mereka gadget canggih seperti IPhone, Tablet, dan lain sebagainya. Anak-anak yang tumbuh dengan buku-buku dikemudian hari akan lebih aktif dan atraktif dalam berbicara atau bercerita.
"Saya sendiri mengalaminya dengan anak saya, Mira, Sylia dan sekarang menurun juga ke anak saya Zaravina dan si bungsu Raqila. Kalau Raqilla masih senang dengan buku yang banyak gambarnya. Dia mulai menceritakan apa yang ada didalam buku itu. Setiap mau tidur juga minta ibu atau bapaknya untuk bacakan buku. Pernah suatu ketika Raqilla tidur dengan Zara, justru dia yang ingin membacakan kakaknya buku, karena dia belum bisa baca ya jadinya alur ceritanya ngalor-ngidul' Jelasnya. (Ly)





No comments:
Post a Comment