Friday, 29 April 2016

GULAI SAYUR TAHU PADANG (budget Rp.10.000)


Gulai Sayur Tahu Padang
Hari ini aku masak masakan khas Padang yah sedikit di modifikasi lah sesuai selera, resepnya dapet di cookpad aplikasi yang kudownload.
Budget yang kukeluarkan untuk membuat masakan ini adalah Rp.10.000,- tentunya karena ada beberapa bahan yang sudah kupunya, porsi sekitar 7 orang :D
Gimana anak kos? murah meriah kan? yang pastinya juga enak.
Yuk yang pengen recook di stalking aja cara membuatnya :D 

Bahan:
  •  tahu
  •  wortel
  • 7 siung bawang merah
  • 4 siung bawang putih 
  • 7 buah cabe rawit 
  • jahe 
  • lengkuas 
  • kunyit 
  • serai 
  • daun jeruk 
  • santan
  • gula
  • garam  
 Langkah:
  • potong tahu dan wortel 
  • iris cabe merah
  • haluskan bawang merah, bawang putih, kunyit. 
  • Geprek jahe, lengkuas dan serai
  • tumis adonan yang dihaluskan tadi, tambahkan santan dan bumbu yang digeprek, masukkan irisan cabe dan daun bawang hingga mengeluarkan aroma yang khas 
  • masukkan wortel dan tahu
  • aduk hingga tercampur, masukkan gula dan garam sesuai selera
  • tunggu hingga tahu dan bumbu menyerap santan. 
  • sajikan 
selamat mencoba 



KENAKALAN REMAJA

“KENAKALAN REMAJA”

Masa remaja sering juga disebut dengan masa transisi, yakni jembatan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Banyak hal yang menandai terjadinya masa remaja seperti perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional.

Proses biologis (biological process) yakni melibatkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi didalam tubuh individu. Adapun perubahan bilogis tersebut meliputi : gen-gen yang diwarisi orang tua, perkembangan otak, tinggi dan berat tubuh, perubahan dalam keterampilan motorik, perubahan hormonal dimasa pubertas.

Proses kognitif yakni (cognitive process) melibatkan perubahan pemikiran dan intelligensi individu. Seperti mengingat sebuah puisi, memecahkan soal-soal pelajaran seperti matematika dan lain sebagainya, membayangkan sesuatu seperti menjadi seorang bintang film.

Psoses sosio-emosional (social emosional). Yang melibatkan perubahan-perubahan dalam hal emosi, kepribadian, relasi dengan orang lain dan konteks sosial. Seperti menanggapi perkataan orang tua, bersikap agresi terhadap kawan-kawan sebaya, kegembiraan ketika lulus sekolah, dan orientasi peran gender.

Berhenti disitu mengenai pengertian remaja. Lalu apa masalah yang sering dihadapi oleh remaja? Masalah-masalah tersebut meliputi kenakalan remaja, kehamilan remaja, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, bunuh diri dan gangguan-gangguan makan (eating disorder yang meliputi anorexia dan bulimia nervosa pernah dibahas dalam artikel sebelumnya, link : http://blog.ub.ac.id/juliatia/2014/10/13/berat-badan-sudah-40-kg-mengapa-masih-ingin-kurus-juga-menyimak-diagnosa-anorexia-dan-bulimia-nervosa-pada-remaja-perempuan/ . Dalam artikel kali ini, penulis akan lebih banyak membahas mengenai kenakalan remaja, determinan-determinan serta pencegahannya.

Kenakalan remaja
Kenakalan remaja (juvenile deliquency) mengacu pada perilaku luas yang bersikap negatif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain mulai dari perilaku yang tidak bisa diterima secara sosial (seperti melawan atau memukul guru, teman-teman), melakukan pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah selama lebih dari 24 jam) hingga pada tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri, membunuh dan lain sebagainya).  kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja yang merupakan perwujudan dari ketidakterselesaikannya proses-proses perkembangan maupun koonflik yang terjadi pada masa kanak-kanak maupun masa remaja saat itu.
katakan-tidak-pada-kenakalan-remaja
sumber foto : http://kamelia11.files.wordpress.com/2012/11/katakan-tidak-pada-kenakalan-remaja.jpg

Kenakalan remaja (juvenile deliquency) ialah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan/kenakalan anak-anak, muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anakdan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. (Kartini Kartono, 2011).

Untuk tujuan-tujuan hukum, dibuat suatu perbedaan antara pelanggaran-pelanggaran indeks (index offenses) dan pelanggaran-pelanggaran status (status offenses). Index offenses adalah tindakan kriminal, baik yang dilakukan oleh remaja maupun orang dewasa. Tindakan-tindakan tersebut meliputi perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan dan pembunuhan. Status offenses, ialah tindakan-tindakan seperti melarikan diri dari rumah, nolos dari sekolah, minum-minuman keras yang melanggar ketentuan-ketentuan usia, pelacuran, dan ketidakmampaun diri adalah tindakan-tindakan yang tidak terlalu serius. Tindakan-tindakan tersebut dilakukan oleh anak mudia dibawah usia tertentu, sehingga pelanggaran-pelanggaran itu disebut sebagai pelanggaran-pelanggaran remaja. (Santrock, 2002).

Faktor yang melatarbelakangi
Terdapat beberapa prediktor yang melatarbelakangi kenakalan remaja seperti :
1. Identitas (identitas negatif)
Kenakalan terjadi karena remaja gagal dalam mengatasi identitas peran. Dalam tahap Erikson kelima, remaja berada dalam tahap identitas versus kebingungan identitas (identity vs identitiy confusion). Dimasa ini, remaja dihadapkan pada tantangan siapakah mereka itu, apa keunikannya, dan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Oleh sebab itu, remaja yang gagal dalam mengatasi identitas perannya cenderung akan berperilaku menyimpang yang menjurus pada kenakalan remaja.
2. Pengendalian diri (derajat yang rendah)
Beberapa anak dan remaja yang gagal mencapai pengendalian diri yang baik yang umumnya bisa dicapai oleh rekan-rekan mereka dalam masa pertumbuhan yang sama.
3. Usia (kenakalan telah muncul pada usia dini)
Awalnya perilaku antisosial ditandai dengan pelanggaran-pelanggaran ringan, dan menjadi pelanggaran-pelanggaran serius di kemudian hari pada masa remaja. Akan tetapi, tidak semua anak yang bertindak berlebihan berorientasi menjadi anak atau remaja nakal.
4. Jenis kelamin (dominan dilakukan oleh laki-laki)
Dalam kasus ini, remaja laki-laki lebih banyak terlibat dalam kasus antisosial dan tindakan-tindakan kejahatan, sedangkan remaja perempuan lebih cenderung melarikan diri dari rumah.
5. Harapan-harapan bagi pendidikan (harapan-harapan yang rendah, komitmen yang rendah)
Remaja yang menjadi nakal cenderung memiliki nilai rapor yang rendah, prestasi yang rendah serta harapan-harapan pendidikan yang rendah pula. Seringkali kemampuan verbal mereka juga menjadi lemah.
6. Pengaruh teman sebaya (berpengaruh berat, seperti tidak mampu menolak ajakan teman)
Remaja seringkali tidak bisa menolak ajakan teman-teman sebayanya. Bergaul dengan teman-teman sebaya yang nakal dapat menambah resiko remaja menjadi nakal pula.
7. Status sosio ekonomi yang rendah
Pelanggaran-pelanggaran hukum yang ringan maupun berat lebih banyak dilakukan oleh anak laki-laki dengan status ekonomi rendah.
8. Peran orang tua (kurangnya keletakan dan pemantauan, dukungan yang rendah, disiplin yang tidak efektif dan kualitas lingkungan (misalnya dalam lingkungan perkotaan karena tingginya kejahatan dan mobilitas)
Masyarakat seringkali mengembangbiakkan kejahatan. Tinggal di lingkungan dengan tingkat kejahatan yang tinggi, kondisi kemiskinan dan kehidupan yang padat, menambah kemungkinan bahwa seorang remaja akan menjadi nakal. Biasanya masyarakat seperti ini memiliki sekolah-sekolah yang sangat tidak memadai.

Upaya Pencegahan
Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh masyarakat, orang tau, guru maupun pemerintah setempat dalam mengurangi kenakalan remaja. Upaya-upaya tersebut meliputi : pengadaan ekstrakulikuler di sekolah-sekolah, rekreasi, pelatihan kejuruan, terapi keluarga, modifikasi perilaku, kegiatan-kegiatan agama dan pembacaan kitab suci, maupun psikoterapi individu dan kelompok, dan lain sebagainya.
Karena perilaku kenakalan remaja menimbulkan kerugian yang besar
Dalam pandangannya mengenai pencegahan kenakalan, Joy Dryfoos (1990) juga menggarisbawahi apa yang belum berhasil dalam pencegahan kenakalan. Upaya-upaya yang kurang efektif tersebut meliputi simulasi kasus pencegahan konseling kelompok, intervensi farmakologi (kecuali bagi pelaku kekerasan yang ekstrim), pengalaman kerja, pendidikan kejujuran, sistem peradilan bagi anak-anak nakal dan upaya-upaya langsung yang menakutkan. Ia menambahkan, praktik-praktik sekolah terbaru yang tidak efektif mengurangi kenakalan meliputi pemberian skorsing, penahanan, pemecatan penjagaan keamanan, dan hukum badan.

Daftar Pustaka :
Santrok, John W. 2007. Remaja, Edisi Kesebelas. Jakarta:Erlangga.
Santrok, John W. 2002. Life-Span Development, Edisi Kelima. Jakarta:Erlangga.
Kartono, Kartini. 2011. Patologi Sosial 2, Kenakalan Remaja. Jakarta:Rajawali Pers.
Sumber foto :
http://kamelia11.files.wordpress.com/2012/11/katakan-tidak-pada-kenakalan-remaja.jpg

SEBENARNYA SIH PINTAR, TAPI KOK PERILAKUNYA NEGATIF? (Remaja Gifted)

Terkadang ketika sedang menempuh pendidikan, kita sering menemukan teman-teman sekelas kita yang malas, sering mengganggu teman yang lain, tidak mendengarkan penjelasan guru atau dosen, sering dihukum, sering tidur dikelas, sering membolos, terlambat masuk sekolah dan lain sebagainya. Tapi ketika ujian dia memperoleh nilai tertinggi. Mengapa demikian?
Mungkin beberapa diantara kita mengira guru atau dosen kita-lah yang pilih kasih atau salah memberi nilai, dia mendapat bocoran soal-lah, mencontek dan prasangka-prasangka lainnya.
Bagaimana jika seseorang yang telah disebutkan perilakunya tersebut benar-benar mendapat nilai tertinggi dengan murni? Mungkinkah?
Sangat mungkin sekali!

Gifted!
 
Adalah istilah yang diberikan kepada seseorang yang berbakat, superior, ataupun genius secara intelektual. Gifted  berbeda dengan talent. Jika talent menyoroti bakat khusus misalnya akademik, sosial dan kinestetik. Maka, gifted lebih condong pada bakat umum atau intelektual secara umum. Remaja gifted biasanya memiliki IQ diatas 130, atau bakat dominan dalam suatu bidang tertentu.
Ketika masih sekolah, kita sering menjumpai teman kita yang sering membolos sekolah, mengganggu teman yang lain alias menjadi biang keladi kelas, namun ia sebenarnya adalah anak yang pintar. Hal tersebut terjadi karena ia berusaha untuk menarik perhatian orang lain dan ketika remaja berbakat yang tidak mendapat tantangan dalam hidupnya, maka ia akan menarik diri sehingga motivasi berprestasinya rendah. Terkadang mereka juga memilih untuk mengurung diri, menjadi pastif dan apatis di sekolah.
Dalam kehidupan sehari-hari anak gifted kerap kali bertingkah-laku negatif, baik di sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. Tidak heran jika masyarakat umum sering memberikan label “terlalu dewasa untuk seumurannya” terhadap anak gifted dan kerapkali membeda-bedakan perlakuan antara anak gifted dan anak normal pada umumnya.

Karakteristik

Adapun karakteristik anak berbakat yang dikemukakan oleh Ellen Winer adalah sebagai berikut :
  • Lebih maju atau cepat matang
Anak gifted biasanya lebih cepat menguasai suatu bidang indikasi kemampuan alami yang tinggi. Mereka lebih cepat matang karena dilahirkan dengan kemampuan yang tinggi. Dalam bidang yang mereka minati, mereka belajar dengan mudah dibandingkan dengan teman-teman seusia mereka.
  • Berkembang menurut tempo dan caranya sendiri
Anak gifted tidak membutuhkan bantuan yang banyak dari orang dewasa. Mereka memiliki iramanya sendiri. Mereka seringkali menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cara yang unik dan melakukan penemuan-penemuan sendiri.
  • Gairah untuk menguasai dan menjadi seorang ahli
Anak gifted memiliki minat dan obsesi yang tinggi serta intensitas terhadap suatu bidang yang mereka rasa kuasai. Oleh sebab itu, tidak heran jika mereka kerap kali berambisi untuk menguasai bidang dimana mereka memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang tersebut.

Ciri-Ciri Fisik

Dalam ciri fisiknya, anak gifted memiliki ciri fisik yang berbeda dengan teman seumurannya. Mereka biasanya memiliki tubuh tinggi dan lebih kuat. Saat kecil, mereka mulai berjalan, berbicara dan mengenali objek-objek pada umur lebih dahulu daripada anak-anak yang seumuran dengannya. Secara umum mereka memiliki kondisi fisik yang lebih sehat dibandingkan dengan anak-anak seumurannya.
Anak gifted lebih senang bermain dengan teman-teman yang lebih tua darinya, dan kerap kali menjadi pemimpin diantara teman-temannya. Mereka biasanya dilahirkan dari kalangan keluarga dengan ekonomi menengah ke atas, karena biasanya mereka akan mendapatkan segala kemudahan dari orang tuanya, dan cenderung dilahirkan di kota-kota besar.

Apakah gifted merupakan faktor keturunan atau lingkungan? 

Keduanya!
Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi mereka menjadi gifted adalah sebagai berikut :
v  Faktor keturunan
Mereka memiliki tanda-tanda berkemampuan tinggi yang ditampilkan dalam usia yang sangat muda jauh sebelum mereka memasuki sekolah-sekolah formal. Hal tersebut mengindikasikan pentingnya kemampuan bawaan.
v  Dukungan keluarga
Dukungan dari keluarga adalah salah satu faktor yang penting juga dalam kasus ini. Biasanya keluarga atau orang tua mereka terlalu bersemangat dalam memaksa, namun mereka seringkali kehilangan motifasi intrinsik mereka.
v  Latihan mandiri (deliberate practice)
Bagi remaja yang memiliki keahlian pada bidang tertentu, latihan mandiri kerap kali dilakukan pada tingkat kesulitan yang tepat bagi individu.
Ψ
Referensi :
Asrori, Mohammad, dan Ali Mohammad. 2012. Psikologi Remaja.Jakarta: Bumi Aksara.
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Tatanaba. “Anak Gifted”.       . (online). https://sites.google.com/site/tantataba/anak-gifted. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2014.

MENGGALI PERKEMBANGAN MORAL DALAM MASA REMAJA BERDASARKAN KONTEKS PENGASUHAN DAN SEKOLAH

Selain teman sebaya, pengasuhan dan karakteristik orang tua dalam mendisiplinkan anak serta sekolah menjadi konteks yang penting dalam mengembangkan moral remaja.

Perkembangan moral  (moral development) 
Melibatkan pemikiran, perilaku dan perasaan dalam mempertimbangkan mengenai benar dan salah. Lalu kapankah remaja mulai berpikir akan hal yang benar dan salah?
Sekitar umur 10 tahun ke atas anak mulai menyadari aturan-aturan dan hukuman-hukuman yang diciptakan oleh orang. Kohlberg beranggapan bahwa relasi dengan teman sebaya sangat mempengaruhi perkembangan moral remaja. Namun disamping itu, keluarga atau pengasuhan juga merupakan faktor penting bagi perkembangan moral.

Pengasuhan
Piaget dan Kohlberg berpendapat bahwa orang tua tidak menyediakan masukan yang unik atau esensial bagi perkembangan moral anak-anak. Mereka berpendapat bahwa orang tua memiliki kewajiban memberikan kesempatan untuk pengambilan-peran dan mengalami konflik kognitif, namun mereka menyediakan peran primer dalam perkembangan moral bagi kawan-kawannya. Para peneliti mengungkapkan bagaimana orang tua maupun kawan sebaya berkontribusi terhadap perkembangan kematangan moral. (Walker, Hennig, Krettenauter, 2000; White & Matawie, 2004; Santrock, 2007).

Disiplin orang tua
Menurut teori psikoanalisis dari Freud, aspek pengasuhan anak yang dapat mendorong perkembangan moral anak adalah dengan cara menanamkan rasa takut terhadap hukuman dan kehilangan cinta orang tua. Para ahli perkembangan anak yang mempelajari teknik pengasuhan-anak dan perkembangan moral memiliki fokus terhadap teknik-teknik disipin yang dilakukan oleh orang tua. Secara garis besar, terdapat tiga teknik yang biasa dilakukan oleh orang tua untuk mendisiplinkan anak. Adapun teknik tersebut meliputi :
  • Menarik Cinta (love withdrawal)
Berkaitan erat dengan psikoanalisis terhadap takut akan hukuman atau kehilangan cinta orang tua. Teknik ini merupakan teknik disiplin dimana orang tua tidak memberikan atensi atau cintanya kepada remaja. Misalnya: seorang anak yang melanggar peraturan dari orang tuanya, dan sebagai hukumannya orang tua menolak untuk berbicara dengan anak tersebut.
  • Memperlihatkan kekuasaan (power assertion)
Teknik disiplin ini berkaitan dengan usaha orang tua dalam memperoleh kontrol terhadap remaja atau terhadap sumberdaya remaja. Contohnya : memukul, menampar, mengancam atau menghentikan hak remaja terhadap sesuatu (misalnya memotong uang jajan).
  • Membujuk (induction)
Teknik disiplin ini berkaitan dengan orang tua yang menggunakan penalaran dan penjelasan mengenao konsekuensi dari tindakan remaja terhadap orang lain. Contohnya : “Mengapa kamu tidak pernah menyapa temanmu? Padahal ia tidak bermaksud menyinggung perasaanmu” dan “Jangan memarahinya, dia hanya berusaha untuk memperingatkanmu”.
Para ahli teori dan peneliti perkembangan moral mengatakan semua jenis disiplin dapat menyadarkan remaja. Salah satu teknik yang dapat menyadarkan remaja dalam tingkat yang sangat tinggi ialah dengan menarik cinta dan memperlihatkan kekuasaan, sebab menarik cinta menimbulkan kecemasan pada remaja, sedangkan memperlihatkan kekuasaan dapat menimbulkan permusuhan antara orang tua dan remaja. Membujuk juga dapat menyadarkan remaja dan memperlihatkan hasil yang tinggi sedang tidak seperti saat menarik cinta dan memperlihatkan kekuasaan. Melalui membujuk remaja digiring untuk memperlihatkan konsekuensi dari tindakannya ke oran lain, bukan pada dirinya sendiri saja.
Sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini menyimpulkan bahwa secara umum, anak-anak yang bermoral cenderung  memiliki orang tua dengan karakteristik sebagai berikut (Eisenberg & Valiente, 2002; Santrock, 2007).
  • Hangat dan suportif dibandingkan menghukum
  • Menerapkan disiplin dengan cara membujuk
  • Memberikan peluang kepada anak untuk mempelajari perspektif dan perasaan orang lain.
  • Melibatkan anak-anak dalam pengambilan keputusan didalam keluarga dan memberikan peluang bagi anak-anak untuk melakukannya juga.
  • Memberikan informasi mengenai perilaku yang diharapkan dan disertai alasan mengapa.
  • Mendorong penghayatan moral yang bersifat internal dibandingkan eksternal.
Orang tua yang memperlihatkan konfigurasi perilaku seperti ini, cenderung mendorong berkembangnya perhatian dan kepedulian anak-anaknya terhadap orang lain, serta menciptakan relasi orang tua anak yang positif. Oleh sebab itu, seharusnya orang tua menggunakan cara membujuk untuk mendorong perkembangan moral remaja.

Sekolah
Sekolah merupakan sebuah konteks yang penting bagi perkembangan moral. Pendidikan moral banyak didebat dalam lingkungan pendidikan. Terdapat beberapa cara sekolah dalam meningkatkan moral anak-anak didiknya.
  • Kurikulum tersembunyi
Lebih dari 60 tahun yang lalu pendidik John Dewey mengenali bahwa meskipun seandarinya sekolah tidak memberikan program spesifik dalam meningkatkan moral, mereka tetap memberikan pendidikan moral melalui “kurikulum tersembunyi”. Kurikulum tersebunyi ini biasanya dibuat oleh para guru beserta seluruh pegawai administrasi sekolah dalam sebuah rapat.
  • Pendidikan moral
Atau (character educational) dimana para siswa diajarkan langsung mengenai moral dasar dan mencegah mereka untuk melakukan perilaku yang tidak bermoral dan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan kerugian terhadap diri sendiri dan orang lain.
Lawrence Walker (2002; Santrock 2007) menyatakan bahwa pendidikan karakter perlu melibatkan diskusi yang kritis mengenai nilai-nilai dibandingkan hanya sekadar menempelkan sebuah dafta mengenai kebijaksanaan moral di dinding kelas. Ia menekankan bahwa anak-anak remaja perlu berdiskusi dan berefleksi mengenai bagaimana menerapkan kebijaksanaan ke dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menekankan pentingnya menghadapkan anak muda pada teladan mpral yang dapat mendorong mereka untuk menconto dan membuat anak muda untuk berpartisipasi dalam layanan komunitas.
  • Penjelasan mengenai nilai
Penjelasan mengenai nilai membantu orang untuk memperjelas hal-hal yang penting bagi mereka, apa yang layak untuk dikerjakan dan tujuan hidup sepertia apa yang sebaiknya diraih. Dalam pendekatan ini, para siswa didorong untuk mendefinisikan nilai-nilai mereka dan memahami nilai-nilai orang lain. (Williams dkk., 2003; Santrock, 2007.
  • Pendidikan moral kognitif
Adalah sebuah konsep yang menekankan keyakinan bahwa siswa sebaiknya belajar menghargai nilai-nilai seperti demokrasi dan keadilan seiring dengan perkembangan moral mereka. Teori Kohlberg telah menajdi dasar bagi sejumlah program pendidikan moral kognitif. (Santrock, 2007)
  • Service learning
Adalah suatu bentuk pendidikan yang bertujuan untuk mendorong tanggung jawab sosial dan memberikan pelayanan kepada komunitas. Dalam service learning, remaja terlibat dalam aktivitas-aktivitas seperti tutoring, menolong orang lanjut usia, bekerja dirumah sakit, membantu dipusat penitipan anak, atau sebagai tenaga kebersihan di taman bermain. Salah satu tujua penting yang ingin dicapai oleh service learning bagi remaja adalah mengurangi kecenderungan untuk terpusat pada diri sendiri dan menumbuhkan motivasi yang lebih kuat untuk menolong orang lain (Benson, dkk., 2006 ; Hart, 2005; Metz & Youniss, 2005; Pritchard & Whitehead, 2004; Waterman, 1997; Santrock, 2007).

Ψ
Referensi :
Santrok, John W. 2007. Remaja, Edisi Kesebelas. Jakarta:Erlangga.

She's Coming Out Early!

Qalisha Syakira Ilham  She's Baby Qa Sebelumnya, janjian sama ayahnya mau barengan ulang tahun di Desember 28. Tiba-tiba tadi mala...