“KENAKALAN REMAJA”
Masa remaja sering
juga disebut dengan masa transisi, yakni jembatan dari masa kanak-kanak
menuju masa dewasa. Banyak hal yang menandai terjadinya masa remaja
seperti perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional.
Proses biologis (
biological process)
yakni melibatkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi didalam tubuh
individu. Adapun perubahan bilogis tersebut meliputi : gen-gen yang
diwarisi orang tua, perkembangan otak, tinggi dan berat tubuh, perubahan
dalam keterampilan motorik, perubahan hormonal dimasa pubertas.
Proses kognitif yakni (
cognitive process) melibatkan
perubahan pemikiran dan intelligensi individu. Seperti mengingat sebuah
puisi, memecahkan soal-soal pelajaran seperti matematika dan lain
sebagainya, membayangkan sesuatu seperti menjadi seorang bintang film.
Psoses sosio-emosional (
social emosional).
Yang melibatkan perubahan-perubahan dalam hal emosi, kepribadian,
relasi dengan orang lain dan konteks sosial. Seperti menanggapi
perkataan orang tua, bersikap agresi terhadap kawan-kawan sebaya,
kegembiraan ketika lulus sekolah, dan orientasi peran gender.
Berhenti
disitu mengenai pengertian remaja. Lalu apa masalah yang sering
dihadapi oleh remaja? Masalah-masalah tersebut meliputi kenakalan
remaja, kehamilan remaja, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, bunuh
diri dan gangguan-gangguan makan (
eating disorder yang meliputi
anorexia dan
bulimia nervosa pernah dibahas dalam artikel sebelumnya, link :
http://blog.ub.ac.id/juliatia/2014/10/13/berat-badan-sudah-40-kg-mengapa-masih-ingin-kurus-juga-menyimak-diagnosa-anorexia-dan-bulimia-nervosa-pada-remaja-perempuan/
. Dalam artikel kali ini, penulis akan lebih banyak membahas mengenai
kenakalan remaja, determinan-determinan serta pencegahannya.
Kenakalan remaja
Kenakalan remaja (
juvenile deliquency)
mengacu pada perilaku luas yang bersikap negatif yang merugikan diri
sendiri maupun orang lain mulai dari perilaku yang tidak bisa diterima
secara sosial (seperti melawan atau memukul guru, teman-teman),
melakukan pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah selama lebih
dari 24 jam) hingga pada tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri,
membunuh dan lain sebagainya). kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh
remaja yang merupakan perwujudan dari ketidakterselesaikannya
proses-proses perkembangan maupun koonflik yang terjadi pada masa
kanak-kanak maupun masa remaja saat itu.

- sumber foto : http://kamelia11.files.wordpress.com/2012/11/katakan-tidak-pada-kenakalan-remaja.jpg
Kenakalan remaja (
juvenile deliquency) ialah
perilaku jahat (dursila), atau kejahatan/kenakalan anak-anak, muda;
merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anakdan
remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga
mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. (Kartini
Kartono, 2011).
Untuk tujuan-tujuan hukum, dibuat suatu perbedaan antara pelanggaran-pelanggaran indeks (
index offenses) dan pelanggaran-pelanggaran status (
status offenses). Index offenses adalah
tindakan kriminal, baik yang dilakukan oleh remaja maupun orang dewasa.
Tindakan-tindakan tersebut meliputi perampokan, penyerangan dengan
kekerasan, pemerkosaan dan pembunuhan.
Status offenses, ialah
tindakan-tindakan seperti melarikan diri dari rumah, nolos dari
sekolah, minum-minuman keras yang melanggar ketentuan-ketentuan usia,
pelacuran, dan ketidakmampaun diri adalah tindakan-tindakan yang tidak
terlalu serius. Tindakan-tindakan tersebut dilakukan oleh anak mudia
dibawah usia tertentu, sehingga pelanggaran-pelanggaran itu disebut
sebagai pelanggaran-pelanggaran remaja. (Santrock, 2002).
Faktor yang melatarbelakangi
Terdapat beberapa prediktor yang melatarbelakangi kenakalan remaja seperti :
1. Identitas (identitas negatif)
Kenakalan
terjadi karena remaja gagal dalam mengatasi identitas peran. Dalam
tahap Erikson kelima, remaja berada dalam tahap identitas versus
kebingungan identitas
(identity vs identitiy confusion). Dimasa
ini, remaja dihadapkan pada tantangan siapakah mereka itu, apa
keunikannya, dan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Oleh sebab itu,
remaja yang gagal dalam mengatasi identitas perannya cenderung akan
berperilaku menyimpang yang menjurus pada kenakalan remaja.
2. Pengendalian diri (derajat yang rendah)
Beberapa
anak dan remaja yang gagal mencapai pengendalian diri yang baik yang
umumnya bisa dicapai oleh rekan-rekan mereka dalam masa pertumbuhan yang
sama.
3. Usia (kenakalan telah muncul pada usia dini)
Awalnya
perilaku antisosial ditandai dengan pelanggaran-pelanggaran ringan, dan
menjadi pelanggaran-pelanggaran serius di kemudian hari pada masa
remaja. Akan tetapi, tidak semua anak yang bertindak berlebihan
berorientasi menjadi anak atau remaja nakal.
4. Jenis kelamin (dominan dilakukan oleh laki-laki)
Dalam
kasus ini, remaja laki-laki lebih banyak terlibat dalam kasus
antisosial dan tindakan-tindakan kejahatan, sedangkan remaja perempuan
lebih cenderung melarikan diri dari rumah.
5. Harapan-harapan bagi pendidikan (harapan-harapan yang rendah, komitmen yang rendah)
Remaja
yang menjadi nakal cenderung memiliki nilai rapor yang rendah, prestasi
yang rendah serta harapan-harapan pendidikan yang rendah pula.
Seringkali kemampuan verbal mereka juga menjadi lemah.
6. Pengaruh teman sebaya (berpengaruh berat, seperti tidak mampu menolak ajakan teman)
Remaja
seringkali tidak bisa menolak ajakan teman-teman sebayanya. Bergaul
dengan teman-teman sebaya yang nakal dapat menambah resiko remaja
menjadi nakal pula.
7. Status sosio ekonomi yang rendah
Pelanggaran-pelanggaran hukum yang ringan maupun berat lebih banyak dilakukan oleh anak laki-laki dengan status ekonomi rendah.
8.
Peran orang tua (kurangnya keletakan dan pemantauan, dukungan yang
rendah, disiplin yang tidak efektif dan kualitas lingkungan (misalnya
dalam lingkungan perkotaan karena tingginya kejahatan dan mobilitas)
Masyarakat
seringkali mengembangbiakkan kejahatan. Tinggal di lingkungan dengan
tingkat kejahatan yang tinggi, kondisi kemiskinan dan kehidupan yang
padat, menambah kemungkinan bahwa seorang remaja akan menjadi nakal.
Biasanya masyarakat seperti ini memiliki sekolah-sekolah yang sangat
tidak memadai.
Upaya Pencegahan
Sudah banyak upaya
yang dilakukan oleh masyarakat, orang tau, guru maupun pemerintah
setempat dalam mengurangi kenakalan remaja. Upaya-upaya tersebut
meliputi : pengadaan ekstrakulikuler di sekolah-sekolah, rekreasi,
pelatihan kejuruan, terapi keluarga, modifikasi perilaku,
kegiatan-kegiatan agama dan pembacaan kitab suci, maupun psikoterapi
individu dan kelompok, dan lain sebagainya.
Karena perilaku kenakalan remaja menimbulkan kerugian yang besar
Dalam
pandangannya mengenai pencegahan kenakalan, Joy Dryfoos (1990) juga
menggarisbawahi apa yang belum berhasil dalam pencegahan kenakalan.
Upaya-upaya yang kurang efektif tersebut meliputi simulasi kasus
pencegahan konseling kelompok, intervensi farmakologi (kecuali bagi
pelaku kekerasan yang ekstrim), pengalaman kerja, pendidikan kejujuran,
sistem peradilan bagi anak-anak nakal dan upaya-upaya langsung yang
menakutkan. Ia menambahkan, praktik-praktik sekolah terbaru yang tidak
efektif mengurangi kenakalan meliputi pemberian skorsing, penahanan,
pemecatan penjagaan keamanan, dan hukum badan.
Daftar Pustaka :
Santrok, John W. 2007.
Remaja, Edisi Kesebelas. Jakarta:Erlangga.
Santrok, John W. 2002.
Life-Span Development, Edisi Kelima. Jakarta:Erlangga.
Kartono, Kartini. 2011.
Patologi Sosial 2, Kenakalan Remaja. Jakarta:Rajawali Pers.
Sumber foto :
http://kamelia11.files.wordpress.com/2012/11/katakan-tidak-pada-kenakalan-remaja.jpg