Saturday, 27 May 2017

TRADISI ROAH JELO PENAMPAHAN DI LOMBOK

Roah di Mushalla

Suka cita dalam menyambut bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri dirasakan oleh berbagaimacam pihak, salah satunya adalah penduduk desa Bagik Polak Barat, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat pada Jum'at (26/05). 

Satu hari sebelum hari puasa maupun Hari Raya Idul Fitri disebut dengan jelo penampahan atau hari persiapan, dimana pada hari ini masyarakat biasanya membersihkan rumah mereka masing-masing, berbelanja untuk kebutuhan dapur dan roah (syukuran) di masjid dan mushalla di suatu desa dengan membawa dulang masing-masing kepada rumah tangga.

Anggota keluarga bisasanya bekerja sama dalam mempersiapkan roah untuk sore hari menjelang waktu sholat maghrib. Laki-laki membantu para istri mempersiapkan bahan makanan untuk diolah, misalnya menyembelih ayam. Anak-anak biasanya turut membantu ibu mereka membersihkan rumah dan pekarangan.

Cara dan menu makan biasanya sederhana, yang bermakna adalah kebersamaan dan rasa syukur dalam menyambut bulan Suci Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.

Pada umumnya, acara roah dilakukan oleh pihak laki-laki dalam suatu keluarga dan perempuan yang membantu menyiapkan dulang atau nampan berisi makanan. Kemudian para lelaki membawa dulang tersebut menuju ke masjid atau mushalla terdekat. 15 menit sebelum adzan magrib biasanya acara roah sudah dimulai, dibuka dengan dzikir bersama, do'a, makan bersama dan shalat magrib berjama'ah. Jika penampahan Hari Raya Idul Fitri biasanya selesai sholat magrib masyarakat akan bersiap-siap untuk melaksanakan takbir keliling. (Ly) 

Roah di Mushalla

Thursday, 25 May 2017

MEMANFAATKAN HARI LIBUR DENGAN KELUARGA

Pantai Gading

Bagaimana anda memanfaatkan hari libur dengan keluarga?

Kamis pagi setelah sholat subuh saya dan keluarga mengunjungi Pandai Gading yang terletak di Jalan Lingkar Selatan setelah Asrama Haji atau bersebelahan dengan Pantai Mapak Kubur. Cukup membayar parkir sejumlah Rp. 2000,- untuk sepeda motor dan Rp. 5000,- untuk kendaraan roda empat kita sudah bisa menikmati pantai pemandangan di pantai ini dan merasakan air laut yang hangat ketika pagi. 

Tidak perlu khawatir jika tidak membawa bekal saat berkunjung ke pantai ini. Banyak pedagang makanan dan juga jasa mainan anak-anak yang ditawarkan. Misalnya pelecing, mie instan, ikan bakar, 

Pedagang Telur Lilit

Ikan Bakar

Pelecing Kangkung

Ketika berenang dipantai ini bersama keponakan saya, ada hal yang membuat hati saya teriris. Bukan karena saya tidak bisa berenang dan tenggelam, melainkan saya berenang bersama beberapa jenis sampah seperti kemasan makanan instan, tusuk sate, kulit kacang dan lain sebagainya.
Awalnya memang tidak begitu banyak sampah, pagi-pagi sekali, namun seiring dengan meningginya matahari dan meningkatnya jumlah pengunjung, pesisir pantai jadi semakin banyak sampahnya.

Alangkah lebih baiknya jika kita menjadi wisatawan yang cerdas, tidak harus ber IQ tinggi untuk mulai mengumpulkan sampah dan membuangnya di tempat-tempat yang sudah disediakan. Tenang saja, Pantai Gading memiliki banyak bak sampah yang tersebar di sekitar pantai ini. Jadi kita cuma perlu olahraga beberapa langkah untuk dapat membuang sampah pada tempatnya. Jika bukan kita yang menjaga keindahan alam, siapa lagi? (Ly).


Sampahnya di kumpulkan ya


Tuesday, 23 May 2017

DISKUSI PISUKE DENGAN INAK-INAK

Foto diambil dari berbagai sumber

Beberapa bulan ini saya sedang mencari-cari tema penelitian berikutnya, setelah sukses dengan "Perbedaan Kepuasan Pernikahan Pada Istri Pelaku Merariq dan Belakoq di Suku Sasak Pulau Lombok". Hari ini saya berdiskusi dengan inak-inak (ibu-ibu) di sebuah berugak (gazebo). Adapun ibu-ibu yang turut hadir dalam diskusi ini adalah:

1. Inak A, dua anak perempuan berusia 20an tahun yang keduanya sudah menikah
2. Inak B, satu anak perempuan berusia 18 tahun yang juga sudah menikah
3. Inak C, dua anak perempuan berusia 18 tahun dan 20 tahun dan belum menikah
4. Inak D, dua anak perempuan berusia 13 tahun dan 6 tahun, belum menikah
5. Inak E, satu anak berusia 3 tahun

Tema diskusi kami hari ini mengenai pisuke yang kerap kali diminta dari pihak perempuan, pisuke hampir sama dengan uang panai dari adat Makasar. Pisuke juga dipengaruhi oleh beberapa pertimbangan lainnya, misalnya:

*Status Sosial (Bangsawan)
*Pendidikan
*Latar Belakang Keluarga
*Fisik
*Prestasi (syukurnya tidak ada tes IQ)
*Dan pertimbangan lainnya

Tidak tanggung-tanggung, semua biaya pernikahan harus ditanggung oleh pihak laki-laki. Mulai dari begawe dirumah laki-laki, mahar, pisuke, nyongkolan, resepsi, inggas dirumah perempuan.

Kemudian saya berada pada posisi dimana saya belum pernah membesarkan anak dan saya kontra terhadap praktik minta pisuke atau uang-capek-karena-sudah-membesarkan-anak-perempuan yang akan dinikahkan tersebut. Sekedar informasi saja bahwa dibalik julukan pulau seribu masjid, ketaatan penduduk terhadap ulama, keindahan pariwisata dan uniknya adat yang dimiliki oleh Pulau Lombok, penduduknya masih sangat memegang teguh adat istiadatnya dan tidak jarang pula dalam banyak hal adat-lah yang justru selalu menang.

Praktik pernikahan di pulau Lombok sebenarnya sangat unik, setidaknya terdapat 8 macam pernikahan yang pernah dilakukan di Lombok seperti yang ditulis oleh Muhammad Harfin Zuhdi dalam bukunya Praktik Merariq: Wajah Sosial Orang Sasak.

1.     Teperondong
2.     Kapanjing, kahambil, dan beboyongan
3.     Balegandang atau ngoros
4.     Belakoq
5.     Kapahica
6.     Katrimanan atau katrimen
7.     Nyerah hukum
8.     Pengampuan

Walaupun demikian, dalam praktiknya hingga saat ini terdapat tiga cara yang biasa dilakukan yakni belakoq (melamar), merariq (melarikan atau menculik) dan teperondong (dijodohkan). Cara-cara tersebut juga tetap meminta pisuke pada keluarga laki-laki. Justru biasanya cara belakoq sendiri pisukenya lebih banyak dibandingkan dengan cara lain, dikarenakan laki-laki yang menikah dengan cara melamar atau belakoq biasanya dinilai lebih matang dari segala sisi terutama ekonomi dibandingkan dengan cara merariq atau menculik. Beberapa desa justru lebih mengutamakan laki-laki menikah dengan cara menculik karena jika meminta atau belakoq dinilai seperti meminta anak ayam.

Oke kembali ke cerita saya mengenai diskusi pisuke dengan inak-inak. Masih jelas ditelinga saya ketika inak D bilang ke saya “Lebih baik saya nikahkan anak saya dengan orang kaya, daripada dengan orang yang taat (beragama). Nanti anak saya ga bisa kenyang”. Saya tentu kaget dengan statement yang disampaikan ibu tersebut, pikirku “oh ternyata agama kalah dengan kondisi ekonomi”.

Saya mencoba menceritakan beberapa pengalaman teman saya yang kakak perempuannya menikah tanpa dimintai pisuke oleh keluarganya, memang adat sudah mendarah daging tentu beberapa orang ibu ini tidak percaya, walaupun saya bilang “perempuan pintar pasti akan memudahkan sunnah” ya tetap saja saya akan dijawab dengan “Ustad X anaknya aja seharga sekian”.


Entah ini dimulai dari mana tapi saya sangat tidak setuju dengan pisuke yang kadang nilainya sangat tidak masuk akal seperti ini. Kalau dua – tiga juta mungkin wajar, tapi tidak wajar ketika yang lulus SMA ‘dijual’ dengan harga belasan juta dan yang sarjana puluhan juta 25 – 50 juta, bahkan ada yang 75 juta (sepaket dirumah perempuan :D), toh pernikahan yang menjalani juga dua orang tersebut. Jadi jangan heran jika tingkat perceraian dan poligami di Lombok sangat tinggi, hal tersebut terjadi karena laki-laki berada pada derajat superior dan ‘membeli’ perempuan manapun yang dia inginkan. (Ly) 

WONDERFUL LOMBOK

=== TRUST YOUR EYE, NOT YOUR LENS ===

Semeti Beach

Semeti Beach 

Tanjung Aan

Merese Hill

Merese Hill
Kuta Beach

Mawun Beach

Mawun Beach



Mawi Beach

Otak Kokoq

Lemor

Pink Beach (12 pm)
Tanjung Ringgit
Tanjung Ringgit

Tanjung Beloam

Tanjung Beloam

Pink Hill

Gili Sunut

Seraye Hill a.k.a Bukit Korea
Gili Sudak

Gili Kedis
Gili Nangu


Cemare Mangrove


Narmada Park
Narmada Park
Lombok

Sunday, 21 May 2017

Memanfaatkan Hari Minggu Terakhir


Memancing

Bagik Polak Barat - Kebanyakan penduduk Pulau Lombok saat hari minggu terakhir menjelang bulan Ramadhan dimanfaatkan dengan rekreasi bersama keluarga ke pantai, kolam renang, air terjun dan tempat-tempat wisata lainnya. 


Namun lain halnya dengan 4 orang laki-laki yang ditemui di kokoq Karang Kebon Barat, Desa Bagik Polak, Kecamatan Labuapi. Aspari selaku warga pendatang asal Abian Tubuh menjelaskan bahwa ia mengisi waktunya ketika tidak bekerja dengan memancing ikan di kokoq Karang Kebon Barat. 

"Ikannya ya ada, tapi agak susah makannya disini. Ada ikan mujaer juga disini" 

Berbeda dengan Aspari, Abah Noar dengan sukarela membakar sampah-sampah yang menumpuk kemudian menghayutkannya sedikit demi sedikit. Hal tersebut ia lakukan lantaran khawatir dengan keramba ikan miliknya dan rekan-rekannya yang lain. Jika sampah-sampah yang telah kering dapat dibakar, maka akan meminimalisir ukurannya ketika terbawa arus air kali, hal tersebut tentu tidak terlalu mengkhawatirkan keramba ikan akan hanyut. Pada musim hujan atau air kali meluap, tidak menutup kemungkinan bahwa tumpukan sampah-sampah tersebut akan menghayutkan keramba ikan milik warga apabila tidak segera dibersihkan. (Ly)

Setelah membakar sampah



Friday, 19 May 2017

REMAS ASSASUTTAQWA JUAL TAKJIL SELAMA RAMADHAN UNTUK SANTUNI ANAK YATIM PIATU


Bagik Polak Barat – Sejumlah remaja-remaji masjid Assasuttaqwa secara aktif berkumpul di masjid ba’da isya guna membicarakan rencana santunan anak yatim piatu selama bulan ramadhan di Desa Bagik Polak Barat, Jumat (19/05). Ketua Karang Taruna Desa Bagik Polak Barat, Muhammad Ramli, S.Pd saat menggelar rapat untuk kedua kalinya menceritakan bahwa ia pribadi merasa minder dengan Dusun Jerneng yang seringkali, bahkan hampir setiap hari mengadakan santunan untuk anak yatim piatu.

“Oleh karena itu acara lomba yang setiap bulan ramadhan selalu kita laksanakan di majid, untuk tahun ini kita cut dulu, kita ganti dengan acara santunan anak yatim piatu” tuturnya.

Menindaklanjuti rapat sebelumnya untuk menarik perhatian para donator, Karang Taruna Remaja Masjid tahun ini akan berjualan aneka takjil selama bulan Ramadhan. Team Marketing santunan anak yatim piatu dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama memegang misi door-to-door dimana mereka akan berjualan dari rumah ke rumah untuk menawarkan takjil kepada warga dan kelompok kedua dengan misi food stand akan menawarkan produk makanan di depan masjid kepada warga yang lewat atau sedang ngabuburit.

Mereka, para remaja berharap dengan kegiatan ini dapat mengetuk pintu hati donatur agar bersama-sama mendukung dan mau berbagi dengan anak yatim piatu.


“Bagi saudara-saudara yang ingin mendukung dan menyayangi anak-anak kita dengan cara berdonasi bisa langsung menghubungi kami Remaja-Remaji Masjid Assasuttaqwa Desa Bagik Polak Barat, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat”. (Ly)

Wednesday, 17 May 2017

SELAMAT HARI BUKU



SELAMAT HARI BUKU 

📚Mari budayakan kembali membaca buku😊

Punya buku, majalah atau kitab tak terpakai?
Bisa disumbangkan ke TBM Bagik Polak Barat😉

CP: 081907529010 (Whatsapp)

She's Coming Out Early!

Qalisha Syakira Ilham  She's Baby Qa Sebelumnya, janjian sama ayahnya mau barengan ulang tahun di Desember 28. Tiba-tiba tadi mala...