Apa yang terlintas dipikiran kita ketika menyebut ‘sampah’?.
Kebanyakan dari kita akan menganggap sampah adalah benda yang tidak berguna dan
tidak memiliki nilai apapun, namun tidak demikian bagi ibu-ibu Tim Penggerak
Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Bagik Polak Barat. Bagi
ibu-ibu TP PKK sampah adalah berkah yang dapat mendatangkan rupiah bagi mereka.
Berpedoman pada 10 pokok program PKK, ibu-ibu dari desa
yang belum lama mekar ini sukses mengusung Bank Sampah dalam rencana
kegiatannya. Siti Musta’inah selaku wakil ketua 1 TP PKK Desa Bagik Polak Barat
menjelaskan bahwa tim terlebih dahulu melakukan sosialisasi ke masyarakat
bagaimana memilah sampah organik dan anorganik, kemudian sampah-sampah
anorganik seperti plastik kemasan kopi, botol dan gelas dibeli oleh bank
sampah. Hasil penjualan tersebut kemudian ditabung dan dicairkan tatkala ada
kebutuhan yang mendesak misalnya untuk biaya pendidikan anak-anak, kesehatan
dan hari raya.
Berbekal pengetahuan dan keahilan yang didapatkan dari
youtube.com, mereka sukses mengolah sampah menjadi kerajinan tangan seperti:
tas, dompet, topi, keranjang belanja, piring dan lain sebagainya, hingga
mendatangkan rupiah. Tidak hanya bagi ibu-ibu kelompok PKK, melainkan
masyarakat sekitar juga mendapat keuntungan dari mengumpulkan sampah.
Namun tidak segala hal dapat berjalan mulus sesuai dengan
keinginan mereka. Saat ini mereka dihadapakan dengan tantangan pemasaran.
Produk yang mereka hasilkan masih dipasarkan dari mulut ke mulut di sekitar
desa dan belum banyak orang yang tertarik dengan kerajinan dari sampah
khususnya di Pulau Lombok. Meskipun demikian, tak menutup kesempatan mereka
untuk berdiskusi dengan salah satu volunteer Sarekat Hijau Indonesia, Andrea, Warga
Negara Prancis pada hari senin 13/03.
“Jadi kebetulan saya juga menjadi pengurus di Sarekat Hijau
Indonesia wilayah NTB, saya di bagian pemberdayaan ekonomi. Kebetulan kemarin
hari sabtu saya mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan volunteer yang jauh-jauh datang dari
Prancis yakni Andrea selaku sekjen SHI yang datang hanya untuk melihat
bagaimana kondisi kita di Indonesia terkait dengan lingkungan. Dari diskusi itu
kemudian saya bercerita tentang apa yang kita lakukan di desa. Dia tertarik
untuk melihat secara langsung proses pegelolaan sampah menjadi suatu kerajinan”
Jelasnya.
Tidak hanya sampah anorganik, kedepannya Siti Mutma’inah
dan TP PKK berencana membuat pupuk dari sampah organik dan medirikan tempat
pengelolaan semua jenis sampah agar sampah tidak lagi menjadi masalah, sehingga
mereka dapat mewujudkan harapannya memiliki TPS 4R Terpadu, Tempat Pengelolaan
Sampah Terpatu: Reduce, Reuse, Recycle and Replace. (Ly)



No comments:
Post a Comment