Monday, 6 March 2017

Pandangan Anda Tentang Pernikahan Tergantung Pada Seberapa Puas Anda Terhadap Pernikahan Anda Sendiri

Foto diambil dari berbagai sumber
Saya seringkali menemukan berbagai macam artikel, meme, status atau kata-kata mutiara mengenai pernikahan. Sepertinya di usia saya seperti ini sangat crucial sekali membicarakan masalah pernikahan.

Banyak yang bilang sebelum menikah harus punya penghasilan dulu, punya rumah, mapan, kerja tetap, pertimbangan usia yang tepat untuk menikah dan punya anak, kalau belum melakukan ini dan itu nanti menyesal, dan lain-lain. Saya bukan orang yang rapi-rapi banget dan saya kurang menyukai hal-hal yang mendadak.

Saya bukan orang yang rajin-rajin banget, pinter-pinter banget tapi saya senang sekali merancanakan sesuatu terlebih dahulu sebelum melakukannya, dan tidak jarang pula saya mempertimbangkan dampak baik dan buruknya, tentu saya ini membuat saya sulit untuk mengambil keputusan, tentu saya juga punya motto hidup. Saya bahkan merencanakan hal-hal yang ingin saya capai tiga, lima hingga sepuluh tahun yang akan datang.

Foto diambil dari berbagai sumber

Misalnya mengenai pernikahan, saya juga punya pandangan lebih tepatnya rencana pernikahan seperti apa. Tentu saya inginkan yang sederhana saja, yang penting restu, sah, diakui agama dan Negara. Tidak sampai disitu, saya juga sudah memiliki rencana mengenai kapan saya akan menempuh S2, kapan punya anak, apa yang harus dilakukan saat hamil, menentukan pola asuh yang ideal untuk anak-anak saya kelak, sampai-sampai saya nyari artikel mengenai dampak kereta bayi terhadap kelekatan anak dan orang tuanya, sampai-sampai saya meneliti mengenai kepuasan pernikahan istri di Lombok dan memunculkan harapan “saya tidak ingin seperti perempuan tradisional Lombok yang dibeli oleh laki-laki kemdian menjadi tulang punggung dan memiliki hubungan suami istri yang sangat tradisional hanya karena kebiasaan adat yang menganggap laki-laki superioritas dan perempuan inferioritas, saya menginginkan parter hidup dan mendefinisikan tidak ada superioritas dan inferioritas namun saya tetap akan menjalankan kewajiban saya sesuai dengan ajaran agama yang saya yakini”

Lebay? Perfeksionis? Idealis? Terserah

Semua orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya

Kadang-kadang iri sih kalau melihat teman-teman seusia saya sudah menikah, punya dua orang anak, disuruh-suruh menikah oleh orang tuanya, membicarakan rencana pernikahan dengan orang tuanya seperti membicarakan ‘besok masak apa’, saya terlahir dari keluarga yang yaa begitulah, entah saya harus menuliskannya dengan cara apa.


Foto diambil dari berbagai sumber
Kadangkala dengan jahatnya saya seringkali mengambil kesimpulan: “pandangan anda tentang pernikahan, tergantung pada seberapa puas anda ataupun orang tua anak puas dengan pernikahannya sendiri”





2 comments:

She's Coming Out Early!

Qalisha Syakira Ilham  She's Baby Qa Sebelumnya, janjian sama ayahnya mau barengan ulang tahun di Desember 28. Tiba-tiba tadi mala...