![]() |
| Foto diambil dari berbagai sumber |
Saya seringkali menemukan berbagai macam artikel, meme,
status atau kata-kata mutiara mengenai pernikahan. Sepertinya di usia saya
seperti ini sangat crucial sekali membicarakan masalah pernikahan.
Banyak yang bilang sebelum menikah harus punya penghasilan
dulu, punya rumah, mapan, kerja tetap, pertimbangan usia yang tepat untuk
menikah dan punya anak, kalau belum melakukan ini dan itu nanti menyesal, dan
lain-lain. Saya bukan orang yang rapi-rapi banget dan saya kurang menyukai
hal-hal yang mendadak.
Saya bukan orang yang rajin-rajin banget, pinter-pinter
banget tapi saya senang sekali merancanakan sesuatu terlebih dahulu sebelum
melakukannya, dan tidak jarang pula saya mempertimbangkan dampak baik dan
buruknya, tentu saya ini membuat saya sulit untuk mengambil keputusan, tentu
saya juga punya motto hidup. Saya bahkan merencanakan hal-hal yang ingin saya
capai tiga, lima hingga sepuluh tahun yang akan datang.
![]() |
| Foto diambil dari berbagai sumber |
Misalnya mengenai pernikahan, saya juga punya pandangan lebih
tepatnya rencana pernikahan seperti apa. Tentu saya inginkan yang sederhana
saja, yang penting restu, sah, diakui agama dan Negara. Tidak sampai disitu,
saya juga sudah memiliki rencana mengenai kapan saya akan menempuh S2, kapan
punya anak, apa yang harus dilakukan saat hamil, menentukan pola asuh yang
ideal untuk anak-anak saya kelak, sampai-sampai saya nyari artikel mengenai
dampak kereta bayi terhadap kelekatan anak dan orang tuanya, sampai-sampai saya
meneliti mengenai kepuasan pernikahan istri di Lombok dan memunculkan harapan “saya
tidak ingin seperti perempuan tradisional Lombok yang dibeli oleh laki-laki
kemdian menjadi tulang punggung dan memiliki hubungan suami istri yang sangat
tradisional hanya karena kebiasaan adat yang menganggap laki-laki superioritas
dan perempuan inferioritas, saya menginginkan parter hidup dan mendefinisikan
tidak ada superioritas dan inferioritas namun saya tetap akan menjalankan kewajiban
saya sesuai dengan ajaran agama yang saya yakini”
Lebay? Perfeksionis? Idealis? Terserah
Semua orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk
anaknya
Kadang-kadang iri sih kalau melihat teman-teman seusia saya
sudah menikah, punya dua orang anak, disuruh-suruh menikah oleh orang tuanya,
membicarakan rencana pernikahan dengan orang tuanya seperti membicarakan ‘besok
masak apa’, saya terlahir dari keluarga yang yaa begitulah, entah saya harus
menuliskannya dengan cara apa.
![]() |
| Foto diambil dari berbagai sumber |
Kadangkala dengan jahatnya saya seringkali mengambil
kesimpulan: “pandangan anda tentang pernikahan, tergantung pada seberapa puas
anda ataupun orang tua anak puas dengan pernikahannya sendiri”



bagus sekali..sip sip
ReplyDeleteTerimakasih pak. Apakah bapak menggunakan R juga utk analisis?
Delete